Oleh: Muhammad Yusuf
Di ufuk samadiyah sufisme, Fakhruddin Faiz melafalkan pesan abadi: "Kuasai dunia dengan ilmu, jalannya adalah belajar, senjatanya adalah menulis, kekuatannya berasal dari membaca. Maka iqra'—bacalah!" Seruan ini bukan sekadar perintah intelektual, melainkan panggilan jiwa untuk menaklukkan alam semesta bukan dengan pedang besi, tapi dengan pedang cahaya nur ilahi. Penguasaan sejati lahir bukan dari dominasi fisik yang rapuh, melainkan dari kejernihan akal yang suci, membersihkan tabir nafsu hingga manusia tak lagi terjerat ilusi duniawi.
Dari lensa filosofis, ilmu adalah nous Aristoteles yang abadi, atau ma'rifah Ibn Arabi yang menyatukan mikro dengan makrokosmos. Ia melindungi manusia dari tipu daya dunya yang menipu, dari hiruk-pikuk massa yang menggiring ke jurang kebodohan kolektif. Psikologisnya, ilmu membangun ego integrity Erikson, di mana belajar menjadi jalan panjang tarbiyah nafs—mengikis lapisan ammarah (nafsu amarah) hingga mencapai mutmainnah (jiwa tenang). Tanpa belajar, manusia terperangkap dalam siklus warisan budaya, mengulang ritual tanpa pemahaman, seperti burung gagak yang meniru elang tanpa terbang tinggi. Belajar membuka pintu fana' (kehanaan diri), di mana kesadaran muncul sebagai saksi hakiki atas keberadaan.
Menulis, senjata tajam ini, memaksa pikiran menari dalam disiplin logika, membersihkan gagasan dari kabut emosi dan prasangka. Dalam sufisme, menulis adalah dhikr qalam—mengingat Tuhan melalui tinta yang mengalir seperti air zamzam. Psikologisnya, proses ini menciptakan cognitive dissonance yang sehat, menguji hipotesis batin hingga lahir keyakinan kokoh. Siosiologis, menulis bukan monopoli individu; ia membagikan pengetahuan, melacak jejak peradaban, dan memicu debat yang mendorong kemajuan kolektif. Bayangkan Durkheim melihatnya sebagai fakta sosial yang kohesif: gagasan tertulis menjadi benang merah masyarakat, mencegah disintegrasi akibat kebodohan massal. Dari situlah peradaban berpijak—dari tinta Al-Ghazali hingga pena modern, menulis menggerakkan roda sejarah menuju ufuk yang lebih cerah.
Membaca, sumber kekuatan primordial, adalah dialog transenden dengan arwah lintas zaman. Ia seperti muraqabah sufi, di mana jiwa berdialog dengan pengalaman nabi, filsuf, dan sage, menyerap kebijaksanaan hingga menjadi darah daging. Tanpa membaca, belajar kehilangan kompas, menulis kehilangan jiwa, dan ilmu layu seperti bunga tanpa embun. Filosofisnya, membaca adalah hermeneutika Gadamer—fusi horizon masa lalu dan kini—sementara sosiologis, ia membangun habitus Bourdieu yang inklusif, membebaskan masyarakat dari tirani ignorance. Iqra' pertama Al-Qur'an bukan kebetulan; ia panggilan eksistensial untuk tumbuh menuju baqa' (kekekalan dalam Tuhan).
Dalam harmoni sufistik-filosofis-psikologis-sosiologis ini, iqra' menjadi jihad akbar: menguasai dunia bukan untuk menindas, tapi untuk membebaskan. Jiwa yang belajar, menulis, dan membaca tak lagi budak dunia, melainkan khalifah yang menyinari umat. Maka, bacalah—dan dunia tunduk pada cahaya batinmu. Seruan untuk membaca dan menulis pada pewahyuan perdana surah al-'Alaq: 1-5 merupakan titik awal peradaban yang paling holistik-integratif.
0 Komentar