MEMINTA RIDHA ILAHI, MERANGKUL QADHA-NYA

 Oleh: Muhammad Yusuf

Di tengah hembusan angin sufistik yang membisikkan rahasia samadiyah, Rabiah al-Adawiyah, sang putri adorasi Basra, melemparkan sebuah petir ke langit jiwa: "Apakah engkau tidak malu kepada Allah dengan meminta ridha-Nya? Sedangkan dirimu tidak ridha atas ketentuan-Nya." Kata-kata ini bukan sekadar celaan; ia adalah cermin retak yang memantulkan wajah kita yang terbelah—antara kerinduan transenden dan pemberontakan egoik. Dalam sufisme, malu (haya') bukan aib rendah, melainkan mahkota tertinggi, pintu gerbang menuju fana' dalam ridha Ilahi. Rabiah, dengan ketajamannya yang menusuk seperti khotam nubuwwah, mengungkap paradoks ontologis: bagaimana jiwa bisa merangkul ridha Tuhan jika tangannya masih mencengkeram keluhan atas qadha' dan qadar-Nya?

Secara teologis, kutipan ini merupakan ungkapan yang tajam pedang ushul fiqh yang memotong ikatan syirik halus. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: "Barangsiapa yang ridha kepada Allah, maka Allah ridha kepadanya" (QS. Al-Fajr: 28, dengan tafsir yang menekankan istirahat jiwa dalam qadha'). Ridha bukan transaksi pasar, melainkan tawajjuh mutlak kepada Dzat Yang Maha Esa. Ketika jiwa meminta ridha-Nya sambil menggerutu atas ketentuan—seperti kehilangan anak, kemiskinan, atau luka hati—ia telah membangun dua takhta: satu untuk Allah, satu untuk nafsu. Ini adalah syirik akbar dalam balutan halus, di mana manusia menjadi tuhan kecil atas nasibnya sendiri. Rabiah mengingatkan kita pada tauhid rububiyyah: segala ketentuan adalah rahmat terselubung, undangan untuk berserah (tawakkul) yang sempurna.

Secara filosofis, paradoks ini mirip dengan dialektika Hegel yang terbalik: tesis ketentuan Ilahi bertemu antitesis pemberontakan jiwa, menyatu dalam sintesis ridha sufistik. Manusia, sebagai makhluk zatiyyah yang terperangkap dalam dualitas Duniawi, selalu haus akan kontrol—sebuah ilusi yang lahir dari ego yang rapuh. Namun, dalam kedalaman filsafat Plotinus, emanasi ilahi mengalir tanpa hambatan; menolak ketentuan berarti memutus tali puputren menuju Yang Maha Sempurna. Rabiah menantang: malulah! Malu adalah katalisator yang membakar ilusi kebebasan palsu, membuka jendela ke hakikat keharusan (ijabiyyah) eksistensi kita sebagai bayang-bayang-Nya.

Dari lensa psikologis, kutipan ini adalah pisau bedah yang mengiris lapisan pertahanan ego. Carl Jung menyebutnya sebagai konfrontasi dengan "bayangan" (shadow)—bagian diri yang menolak qadha' karena trauma masa lalu atau luka kolektif. Jiwa yang tidak ridha adalah korban kompleks inferioritas, di mana permintaan ridha Allah hanyalah proyeksi kebutuhan validasi diri. Dalam terapi sufistik ala Rumi, malu adalah catharsis: ia memaksa integrasi, mengubah keluhan menjadi dzikir. Bayangkan jiwa seperti sungai yang mengalir deras, tapi terhambat bendungan nafsu; ridha adalah membuka bendungan itu, membiarkan air ilahi mengalir bebas, membersihkan trauma hingga mencapai ma'rifat.

Rabiah bukan hanya menegur; ia mengundang kita ke pelukan samadiyah. Malu kepada Allah adalah awal fana', di mana ridha manusia menyatu dengan Ridha-Nya, melahirkan keabadian dalam ketiadaan. Di Samarinda yang hijau, di tengah hiruk-pikuk kehidupan akademik, marilah kita renungkan: apakah keluhan kita atas ketentuan adalah penghalang menuju ridha-Nya? Hanya jiwa yang malu yang layak bernyanyi, "Ya Rabbi, ridhaku adalah ridha-Mu."








Posting Komentar

0 Komentar