Oleh: Muhammad Yusuf
Di jerat keluhan harian, jiwa sering tersesat, membandingkan nasib dengan kilau palsu orang lain. Padahal, keberuntungan sejati bersemayam dalam iman—kompas ontologis yang menjawab asal, tujuan, dan akhir perjalanan manusia. Sebagai Muslim, kita dianugerahi nikmat esensial: ketenangan di tengah hiruk-pikuk, resiliensi saat ujian, dan syukur abadi atas karunia yang tak ternilai. Berhentilah meratap kekurangan; renungkan anugerah terbesar: pengenalan akan Tuhan, jalan pulang bagi yang haus makna.
Syaikh Mutawalli Sya'rawi mengingatkan kita dengan kalimat tanya yang cukup menghentakkan dan mengetuk keras kesadaran kita: "Untukmu yang sering mengatakan kurang beruntung dalam kehidupan, tidak cukupkah engkau merasa menjadi orang yang sangat beruntung dengan dilahirkan sebagai seorang muslim?"
***
Kalimat tersebut mengajak kita berhenti sejenak dari jerat keluhan yang melelahkan, lalu menoleh ke dalam relung jiwa. Banyak jiwa meratap atas nasibnya yang konon kurang beruntung, karena terpesona oleh kilau permukaan kehidupan orang lain—rumah megah, harta berlimpah, atau senyum sempurna di media sosial. Padahal, rasa sial itu lahir bukan dari kekurangan hakiki, melainkan dari hati yang lalai menghitung karunia esensial: napas yang masih teratur, detak jantung yang setia, dan kesadaran yang abadi sejak lahir. Kita sibuk menimbang absennya kemewahan, hingga lupa pada anugerah terbesar yang tak tergantikan: kehidupan itu sendiri.
Menjadi Muslim bukan sekadar label identitas, melainkan keberuntungan ontologis yang mengubah eksistensi. Ia adalah kompas batin di lautan badai duniawi, tali penyelamat saat jiwa tersesat, dan pintu pulang bagi yang haus makna. Di tengah hiruk-pikuk peradaban yang kehilangan arah—penuh gemerlap palsu dan kekosongan rohani—iman menyusun kekacauan kegelisahan menjadi tatanan ilahi, memberi nama suci pada derita manusiawi, dan menabur benih harapan di tanah keterbatasan. Berjuta manusia menggenggam segala materi, tapi merana tanpa ketenangan; di sinilah iman bersinar sebagai nikmat tak ternilai, permata yang tak pudar di kegelapan.
Secara filosofis, keberuntungan sejati bukanlah kelimpahan materi yang rapuh, melainkan kejelasan visi eksistensial yang abadi. Seorang Muslim telah dianugerahi jawaban atas pertanyaan primordial: dari mana asal muasalnya (dari tanah liat ciptaan-Nya), untuk apa ia diciptakan (ibadah dan khalifah di bumi), dan ke mana ia akan kembali (kepada Rabb yang Maha Pengasih). Jawaban ini menambatkan kapal hidup agar tak hanyut dalam arus nihilisme, mengisi kekosongan dengan tujuan ilahi, dan menjaga arah meski ombak cobaan mengamuk hebat. Inilah harta karun yang tak bisa dibeli dengan emas, tak diwariskan lewat darah, kecuali melalui rahmat Allah semesta alam.
Dari perspektif psikologis, iman adalah pegas ketangguhan jiwa yang luar biasa. Ia melatih resiliensi: bangkit dari jurang kegagalan, merajut harapan dari serpihan kekecewaan, dan menumbuhkan syukur di tengah ketidaksempurnaan hidup. Saat seseorang meyakini bahwa Allah Maha dekat—Mendengar setiap desah, Mengatur setiap helai nasib dengan hikmah sempurna—rasa kurang beruntung pun luntur, berganti keyakinan bahwa hidup sedang dipahat dengan kasih sayang, bukan dibiarkan terapung sia-sia.
Jadi, yang patut diubah bukan nasib itu sendiri, melainkan lensa pandang terhadap nikmat-Nya. Hidupmu mungkin sederhana, ujianmu berlapis baja, dan jalanmu penuh duri. Namun, jika iman masih bertakhta di dada, jika pengenalan akan Tuhanmu masih menyala, dan jika kau tahu ke mana bersujud saat lelah menjerat—bukankah itu tanda keberuntungan paling agung, yang melampaui segala ukuran duniawi.
***
Dalam gemuruh cobaan duniawi, iman tetap mercusuar yang tak redup, membimbing jiwa menembus kabut ketidakpastian. Ia bukan sekadar keyakinan, melainkan kekuatan transendental yang merajut makna dari benang penderitaan, menyalakan cahaya syukur di lorong sunyi. Sebagai Muslim, peluklah nikmat ini sebagai mahkota eksistensi—sumber ketabahan abadi, jembatan menuju Rabb yang Maha Pengasih. Dengan hati yang sadar, ubahlah pandanganmu; keberuntungan agung telah kau genggam, menanti disyukuri sepenuhnya.
0 Komentar