NASIB MENGAJAR: TAMBAH ILMU ATAU TAMBAH KEBIJAKSANAAN?

Oleh: Muhammad Yusuf

Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh ilusi kontrol, kutipan ini menusuk tajam: kehidupan adalah guru paling jujur, meski tabrakannya sering berdarah-darah. Bukan kebetulan semata saat rencana runtuh—itu cermin ontologis yang membongkar asumsi dogmatis, keyakinan rapuh, dan hybris intelektual kita. Yang diuji bukan otot, melainkan paradigma berpikir. Pelajaran sejati lahir bukan dari pengetahuan formal, tapi kesadaran keterbatasan diri—seperti pengakuan Socrates dan Al-Ghazali: "Aku tak tahu apa-apa." Dari puing kegagalan, kerendahan hati bangkit sebagai fondasi kebijaksanaan hakiki, mengajak kita turun dari menara ego menuju realitas telanjang.

Imam Syafi'i mengatakan: "setiap kali nasib mendidikku, ia perlihatkan cacatnya pikiranku. Kalaupun tidak bertambah ilmuku, tambah kumengerti kebodohanku". Kebijaksanaan Imam Syafi'i menusuk jiwa: nasib bukan musuh, melainkan guru tanpa tedeng aling-aling yang membongkar cacat paradigma berpikir kita. Setiap tabrakan dengan takdir—rencana gagal, harapan pupus—memperlihatkan kelemahan asumsi dan hybris intelektual. Tak selalu ilmu formal bertambah, tapi kesadaran ontologis akan kebodohan lahir: prasyarat kebijaksanaan hakiki, selaras dengan pengakuan Al-Ghazali dan Socrates. Dari puing ujian, kerendahan hati bangkit, fondasi evolusi spiritual bagi pendidik Islam kontemporer.

***

Kutipan ini mengungkap hakikat kehidupan sebagai guru paling tak kenal ampun, yang tak pernah berbohong meski pukulannya sering kali menyakitkan. Setiap tabrakan dengan nasib bukan kebetulan semata, melainkan cermin tajam yang membongkar kelemahan struktural dalam paradigma berpikir kita. Saat rencana ambruk dan harapan pupus, yang diuji bukan ketangguhan fisik, melainkan fondasi asumsi, keyakinan dogmatis, dan kesombongan intelektual yang kita anggap tak tergoyahkan.

Refleksi mendalam menunjukkan bahwa pelajaran hidup jarang kali menghasilkan pengetahuan formal semata, melainkan kesadaran ontologis akan keterbatasan diri—sebuah pemahaman yang melampaui akumulasi fakta. Kesadaran akan kebodohan bukan kekalahan, melainkan prasyarat kebijaksanaan: Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah pernah menegaskan bahwa pengakuan ketidaktahuan adalah langkah pertama menuju ilmu hakiki. Orang yang mengira dirinya omniscien akan mandeg dalam stagnasi, sedangkan yang menyadari jurang ketidaktahuannya justru terus berevolusi, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an: "Katakanlah: 'Adapun aku, jika aku tidak mengetahui bahwa ini adalah wahyu dari Tuhanku, niscaya aku tidak dapat mengetahui apa yang diturunkan kepadamu'" (QS. Hud: 49), mengajarkan kerendahan hati di hadapan pengetahuan ilahi.

Secara filosofis, prinsip ini selaras dengan epistemologi Socrates—"Saya hanya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa"—dan gagasan kerendahan intelektual yang menjadi ciri pemikir besar seperti Al-Ghazali, yang menulis dalam Ihya Ulumuddin bahwa ilmu sejati lahir dari pengakuan kelemahan akal. Kehidupan, lewat kegagalan dan kekecewaan, memaksa kita turun dari singgasana hybris menuju dataran kesadaran autentik. Di sinilah pandangan dunia berubah: dari ilusi subjektif menjadi realitas objektif, bebas dari proyeksi ego.

Nasib sebagai pendidik memang tak pernah manis, tapi ketajamannya tak tertandingi—merobohkan benteng ilusi tanpa tedeng aling-aling. Jika pasca-ujian itu kita tak serta-merta menjadi lebih arif, setidaknya kerendahan hati yang lahir darinya menjadi batu pertama kebijaksanaan sejati, fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan spiritual dan intelektual dalam konteks kehidupan kontemporer yang penuh distraksi.

***

Dalam guncangan nasib yang tak kenal kompromi, kutipan ini menegaskan: kehidupan sebagai guru jujur memaksa kita merangkul kerendahan hati sebagai fondasi kebijaksanaan hakiki. Bukan pengetahuan formal yang diuji, melainkan hybris intelektual yang rapuh—seperti pengakuan Al-Ghazali dalam Ihya' bahwa ilmu lahir dari pengakuan kelemahan akal, atau firman Allah (QS. Hud: 49) yang menekankan ketidaktahuan di hadapan ilahi. Dari puing kegagalan, kesadaran ontologis bangkit, mengajak kita turun dari singgasana ego menuju realitas autentik. Rendah hati bukan kekalahan, melainkan gerbang evolusi spiritual—relevan bagi pendidik dan peneliti Islam kontemporer yang menghadapi distraksi modern. Mari aplikasikan: renungkan ujian sebagai cermin, tumbuhlah dalam taqwa dan ilmu.

Posting Komentar

0 Komentar