Oleh: Muhammad Yusuf
Tulisan ini tampak sebagai paradoks, bertentangan dengan logika umum (main stream). Saya mulai dengan sebuah pernyataan paradoksal yang dikemukakan oleh Grand Syaikh al-Azhar, Syaikh Ahmad Tayyeb: "Cita-citaku hingga saat ini adalah ingin menjadi guru ngaji Al-Qur'an di Kuttab (TPQ) aku siap untuk meninggalkan jabatan kursi grand syaikh untuk menjadi guru ngaji, semoga Allah mewujudkan cita-citaku sebelum ajal menjemputku". Padahal, umumnya orang memandang bahwa kursi "Grand Syaikh al-Azhar" itu posisi bergensi, terhormat, dan sebuah capaian gemilang. Namun, justru popularitas dan viralitas itu sangat mengganggu ketawadu'annya. Beliau ingin berjalan di jalur mulia yang sunyi dari tepuk tangan manusia, yaitu menjadi guru ngaji.
Nah, di tengah gemuruh dunia yang haus kehormatan, lahir kesadaran langka: turun dari singgasana posisi demi duduk di lantai sunyi kuttab, mengeja huruf Ali-ba-ta pada hati anak-anak bening. Bukan mundur, melainkan pulang ke esensi ilahi. Di sini, jiwa matang memilih cahaya abadi atas gemerlap sesaat—menabur benih Qur’an yang menembus zaman. Cita-cita ini, bisikan kefanaan, mengajak kita renung: kemuliaan sejati lahir dari tuntunan, bukan tahta.
Makna paradoksal kutipan Grand Syaikh Al-Azhar, Ahmad Tayyeb terletak pada pembalikan nilai duniawi: meninggalkan puncak tahta ulama agung demi lantai sunyi kuttab. Jabatan tertinggi dianggap puncak kehormatan, namun ia memilih "penurunan" sebagai puncak kemuliaan—mengajar huruf ba-ta pada anak-anak bening. Ini bukan kekalahan, melainkan kemenangan rohani: mengosongkan ego demi menabur benih Qur’an abadi, membuktikan kefanaan ilahi melampaui gemerlap posisi.
***
Kalimat ini lahir dari kesadaran langka, yang jarang disentuh jiwa-jiwa di tengah hiruk-pikuk dunia yang gila kehormatan. Saat manusia berlomba mendaki tangga posisi, gelar, dan sanjungan, ada hati yang justru memilih turun ke lantai terbawah peradaban ilmu: menjadi guru ngaji Al-Qur’an di kuttab atau TPQ. Bukan sekadar profesi, melainkan sikap batin—keputusan mengosongkan diri dari keangkuhan duniawi demi menabur cahaya ilahi pada hati-hati yang masih suci seperti embun pagi. Ini bukan mundur dari panggung gemerlap, melainkan pulang ke esensi kehidupan: menyalakan obor di kegelapan generasi.
Filosofi Kematangan Jiwa
Secara filosofis, meninggalkan kursi empuk kekuasaan demi duduk bersila di hadapan anak-anak yang mengeja huruf Alif- ba-ta demi huruf Alif-ba-ta adalah puncak kedewasaan rohani. Dunia mengukur martabat dari jumlah yang dipimpin, tapi Al-Qur’an membalik ukuran itu: “Kemuliaan sejati bagi orang yang menuntun kepada kebenaran” (QS. Al-‘Ashr: 3). Mengajar ngaji adalah amal sunyi, buahnya tak langsung mekar, tapi akarnya menembus lapisan zaman. Satu huruf hijaiyah yang ditanam dengan ikhlas bisa bergema abadi, melebihi gemuruh seribu pidato yang dipuja sesaat—seperti benih kecil yang tumbuh menjadi pohon kehidupan.
Dimensi Spiritual: Warisan Abadi
Dari sisi spiritual, cita-cita ini mencerminkan pengertian mendalam tentang warisan hakiki. Jabatan dan pengaruh lenyap bersama hembusan napas terakhir, tapi bacaan Al-Qur’an yang melekat di lisan murid mengalirkan pahala tak putus, sebagaimana sabda Nabi: “Barangsiapa yang mengajarkan satu ayat Al-Qur’an, pahalanya mengalir selama ayat itu dibaca” (HR. Muslim). Guru ngaji mungkin tak dikenal di muka bumi, tapi namanya terukir indah dalam lauh mahfuzh—bekerja bukan untuk kenangan manusia, melainkan untuk menghidupkan kalam Rabb di relung jiwa umat.
Kontribusi Sosial: Penjaga Peradaban
Secara sosial, guru ngaji adalah benteng peradaban yang tersembunyi, sering terlupakan di era ambisi brutal. Ia tak membangun menara kaca, tapi memahat karakter; tak melahirkan elit, tapi menyiapkan generasi yang tahu kiblat sujudnya. Di masyarakat yang bising oleh nafsu duniawi, ia adalah oase kesunyian—mengajarkan pelan-pelan, tapi mengubah arah qiblat hidup seseorang selamanya, seperti sungai kecil yang mengerosi gunung batu.
Doa Kefanaan yang Mulia
Doa yang menyertai cita-cita ini adalah bisikan jiwa yang telah berdamai dengan kefanaan: memohon Allah wujudkan sebelum ajal tiba, bukan ketakutan mati, melainkan rindu khidmat. Jika terwujud, itu bukan kenaikan derajat, tapi penurunan yang dimuliakan Allah. Jika tertunda, niat ikhlas itu sendiri telah menjadi amal shalih yang dicatat malaikat. Sebab, di sisi-Nya, nilai hamba tak diukur tinggi-rendah posisi, melainkan keikhlasan arah hidupnya—seperti bintang yang bersinar di ufuk malam, tak peduli seberapa jauh dari pandangan manusia.
***
Cita-cita menjadi guru ngaji adalah panggilan ilahi yang membebaskan jiwa dari belenggu ambisi. Ia menukar sorotan panggung dengan cahaya relung hati, membangun peradaban tak tergoyahkan dari huruf suci. Di mata Allah, khidmat sunyi ini melampaui segala tahta—merajut generasi wasilah rahmat abadi. Mari hayati: keabadian lahir dari ikhlas menuntun, bukan mendominasi. Semoga setiap niat murni ini menjadi jembatan menuju ridha-Nya, selamanya.
Untuk menutup tulisan ini, saya mengajukan beberapa pertanyaan: Adakah rektor/Ketua PTKIN, dekan, direktur pascasarjana, ketua lembaga yang ingin meninggalkan jabatannya lalu mendirikan dan mengajar langsung di Taman Pendidikan Al-Qur'an? Yang ingin menjabat dua periode, jadi dirjen, bahkan jadi menteri itu pasti banyak. Dari pernyataan Grand Syaikh Al-Azhar tersebut saya menangkap sinyal bahwa di jalan ramai (popularitas dan viralitas) sangat rawan tersedot keikhlasan dan rendah hati. Maka, mereka yang ingin menjaganya, merindukan jalan yang sunyi dari riuh tepuk tangan manusia yang mendekatkan pada riya dan sum'ah.
0 Komentar