Oleh: Muhammad Yusuf
Di tengah nikmat yang melimpah, hati sering lalai. Ujian datang, bukan azab, tapi panggilan pulang—sebagaimana firman-Nya: “Dan apabila manusia ditimpa kemurahan... ia menjadi sangat putus asa” (QS. Al-Isra: 83). Mari renungkan: cobaan adalah rahmat terselubung, undangan Tuhan agar jiwa kembali dekat. Habib Junaid bin Toha Ba'agil mengingatkan dengan mengatakan: "Jangan pernah membenci temanmu yang datang ketika butuh saja. Tanpa kau sadari, kau pun begitu kepada Allah".
Kalimat kritis tersebut ibarat cermin yang memaksa kita menatap diri sendiri tanpa topeng, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran: “Dan apabila manusia ditimpa kemurahan dari Tuhannya, ia bertasbih kepada-Nya. Tetapi apabila ditimpa keburukan oleh-Nya, maka ingatlah, ia menjadi sangat putus asa.” (QS. Al-Isra: 83). Ia menyingkap kenyataan halus dalam hidup manusia: kenikmatan semestinya melahirkan kedekatan, bukan kelalaian. Namun yang sering terjadi justru kebalikannya. Ketika hidup terasa lapang, doa mulai jarang, sujud menjadi tergesa, dan hati perlahan menjauh. Pada titik itulah ujian hadir, bukan sebagai hukuman, melainkan panggilan agar jiwa kembali pulang.
Secara filosofis, nikmat dan ujian bersumber dari asal yang sama: kasih sayang Tuhan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya cobaan. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha, maka baginya keridhaan (Allah). Dan barang siapa yang murka, maka baginya kemurkaan (Allah).” (HR. Tirmidzi). Nikmat adalah undangan lembut, sedangkan ujian adalah panggilan tegas. Keduanya mengarah pada satu tujuan: mendekatkan manusia kepada Sang Pemberi hidup. Saat kelembutan tidak dihiraukan, ketegasan hadir bukan untuk menghancurkan, tetapi menyadarkan. Rantai ujian bukan alat penindasan, melainkan wasilah agar langkah manusia tidak terus menjauh.
Dari sudut pandang psikologis, manusia kerap terbuai rasa aman semu. Kenikmatan menumbuhkan ilusi bahwa ego mampu berdiri sendiri, seakan hidup bergerak hanya karena usaha semata. Ujian mematahkan ilusi itu, sebagaimana Allah firmankan: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155). Ia mengembalikan manusia pada kesadaran keterbatasan, bahwa ada kekuatan jauh lebih besar dari dirinya. Pada saat itulah doa menjadi jujur, tangis tulus, dan hati terbuka untuk bersandar.
Secara sosial, gejala ini tampak nyata. Banyak orang baru kembali ke masjid, menengadahkan tangan sungguh-sungguh, atau mencari makna hidup ketika keadaan memaksa berhenti dari hiruk-pikuk dunia. Ujian menyatukan manusia dengan kemanusiaannya, melembutkan kesombongan, dan menumbuhkan empati—sebagaimana kata hikmah para salaf: “Ujian adalah obat bagi orang beriman, dan racun bagi orang kafir.” (Ibnu Qayyim). Ia membuat yang semula merasa tinggi belajar menunduk, mengenali luka sendiri, dan memahami derita sesama.
Pada akhirnya, kalimat tersebut menuntun pada kesadaran penting: mendekat kepada Allah dalam kelapangan adalah kemuliaan, sedangkan mendekat karena digiring ujian adalah rahmat tersembunyi. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Ajaib urusan orang mukmin, semua urusannya baik baginya. Jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa musibah ia sabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim). Tidak semua orang diseret kembali, sebab tidak semua masih dipedulikan untuk disadarkan. Maka ketika ujian datang, boleh jadi itu bukan tanda dibenci, melainkan isyarat lembut bahwa Tuhan masih menginginkan kita dekat dengan-Nya.
0 Komentar