Keterkaitan Konseptual
Ayat 9 berbicara tentang instabilitas langit, sedangkan ayat 10 menunjukkan dampaknya terhadap bumi. Dalam pendidikan dan sains modern, konsep ini dapat dikaitkan dengan teori tektonik lempeng dan dinamika geologi. Gunung-gunung, yang tampak kokoh, sebenarnya terus bergerak karena pergeseran lempeng bumi.
Dalam pendidikan sains, fenomena ini menjadi bukti bahwa Al-Qur'an telah memberikan isyarat tentang geodinamika. Pergerakan gunung yang digambarkan dalam ayat ini bukan hanya merujuk pada kiamat, tetapi juga dapat dikaitkan dengan realitas ilmiah. Hal ini dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik tentang integrasi ilmu agama dan sains.
Selain itu, dari perspektif filsafat pendidikan, ayat ini mengajarkan pentingnya berpikir kritis terhadap fenomena alam, sebagaimana dianjurkan dalam Islam. Pendidikan berbasis wahyu dan sains memungkinkan lahirnya generasi yang tidak hanya menguasai ilmu empiris tetapi juga memiliki kesadaran spiritual yang tinggi.
Analisis Kebahasaan
Susunan kalimat pada ayat ini menggunakan pola kalimat verbal (jumlah fi‘liyah), dengan kata kerja ÙˆَتَسِÙŠْرُ ("bergerak") yang menunjukkan peristiwa dinamis. Frasa سَÙŠْرًا adalah mashdar yang berfungsi menegaskan intensitas gerakan. Penyebutan "gunung" dalam bentuk ma’rifah (الْجِبَالُ) menunjukkan bahwa semua gunung tanpa kecuali akan mengalami perubahan besar. Secara sintaksis, ayat ini berfungsi sebagai kelanjutan dari ayat sebelumnya yang menggambarkan kejadian besar di langit, menunjukkan kesinambungan peristiwa dari langit ke bumi.
Ayat ini menggunakan tasybih (perumpamaan implisit) dengan kata سَÙŠْرًا yang menggambarkan pergerakan gunung secara luar biasa. Gunung yang secara normal statis di bumi tiba-tiba bergerak dengan dahsyat, menciptakan efek dramatis. Penggunaan kata kerja dalam bentuk mudhari‘ (ÙˆَتَسِÙŠْرُ) memberi kesan bahwa peristiwa ini berlangsung secara progresif, menggambarkan perubahan besar yang tidak bisa dihindari. Selain itu, penggunaan struktur singkat namun penuh makna mencerminkan i‘jaz (keunggulan mukjizat) Al-Qur'an dalam menyampaikan gambaran kiamat dengan sangat kuat dan efektif.
Kata تَسِÙŠْرُ berasal dari akar kata س-ÙŠ-ر yang bermakna "bergerak" atau "berjalan." Dalam konteks biasa, ia menggambarkan perjalanan yang dilakukan manusia atau benda. Namun, dalam ayat ini, pergerakan gunung bukanlah sesuatu yang wajar, melainkan terjadi dalam skala besar, menunjukkan perubahan mendadak. Kata سَÙŠْرًا dalam bentuk mashdar menegaskan intensitas pergerakan tersebut. Makna semantik ini memperkuat bahwa peristiwa kiamat bukan hanya sekadar gempa bumi biasa, tetapi sebuah transformasi global yang melampaui pemahaman manusia.
Gunung sering dikaitkan dengan stabilitas dan keteguhan dalam berbagai budaya dan agama. Dalam Al-Qur’an, gunung juga menjadi simbol kekuatan dan keseimbangan bumi (Q.S. An-Naba: 7). Namun, dalam ayat ini, gunung yang selama ini dianggap kokoh justru berguncang, melambangkan hilangnya kestabilan dunia. Ini menandakan perubahan radikal yang mengguncang eksistensi manusia. Simbol gunung yang bergerak juga dapat dikaitkan dengan konsep impermanensi dalam filsafat: tidak ada yang benar-benar tetap, kecuali Allah. Ini memberikan refleksi mendalam bagi manusia tentang keterbatasan dunia dan pentingnya persiapan untuk kehidupan akhirat.
Keterangan Mufassir.
Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur'an menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan peristiwa kiamat yang dahsyat. Gunung-gunung yang tampak kokoh akan bergerak dan hancur seolah tak berdaya. Ini menunjukkan ketidakstabilan alam semesta saat terjadi kehancuran total. Qutb menekankan bahwa ayat ini tidak hanya menggambarkan realitas fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual. Peristiwa ini mengingatkan manusia akan kekuasaan mutlak Allah dan kefanaan dunia. Bagi Sayyid Qutb, visualisasi kehancuran ini bertujuan untuk menggugah kesadaran manusia agar tidak terbuai oleh kehidupan duniawi.
Tahir Ibnu Asyur dalam Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir menjelaskan bahwa kata "تَسِÙŠْرُ" (bergerak) dalam ayat ini menunjukkan gerakan luar biasa yang menyebabkan gunung terpecah dan tercerai-berai. Menurutnya, ayat ini bukan hanya peristiwa eskatologis, tetapi juga menggambarkan proses geologis yang menunjukkan bagaimana gunung bisa mengalami perubahan seiring waktu. Ibnu Asyur juga menyoroti bahwa bahasa dalam ayat ini menunjukkan dinamika dan bukan sekadar kehancuran mendadak, yang berkontribusi pada pemahaman tentang geologi dalam Al-Qur’an.
Sains dan Pendidikan
Dalam perspektif ilmiah, ayat ini bisa dikaitkan dengan teori pergerakan lempeng tektonik yang menyebabkan gunung-gunung bergerak. Ilmuwan geologi telah membuktikan bahwa gunung tidak statis, melainkan mengalami pergeseran akibat aktivitas tektonik. Misalnya, pegunungan Himalaya terus bertumbuh karena tabrakan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
Dalam konteks pendidikan, tafsir ini relevan dengan pendekatan integrated science, yaitu menghubungkan ilmu agama dan sains. Pendekatan ini bisa diterapkan dalam kurikulum pendidikan Islam modern, khususnya dalam mata pelajaran geografi dan ilmu kebumian, untuk menunjukkan bahwa sains dan wahyu tidak bertentangan. Pendidikan juga bisa memanfaatkan teknologi seperti simulasi 3D untuk membantu siswa memahami proses pergerakan lempeng tektonik secara lebih visual dan interaktif.
Di sisi lain, tafsir ini juga bisa dijadikan bahan refleksi dalam pendidikan karakter. Kesadaran akan kebesaran Allah melalui fenomena alam dapat menumbuhkan sikap rendah hati dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Pendidikan berbasis eco-theology dapat mengajarkan siswa pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.
Riset yang Relevan
Sebuah riset John R. Elliott dkk. dengan judul “Advances in Satellite Geodesy for Monitoring Tectonic Movements and Mountain Deformation” (2023). Penelitian ini menggunakan data satelit GPS dan InSAR untuk menganalisis pergerakan tektonik yang memengaruhi gunung. Studi ini menemukan bahwa pergerakan gunung tidak hanya terjadi pada saat gempa bumi besar, tetapi juga melalui proses deformasi lambat yang terus-menerus. Ini sejalan dengan pemahaman bahwa gunung-gunung memang bergerak sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
Riset yang dilakukan oleh Dr. Muhammad Fadhil & Tim Geologi Islam Nusantara berjudul “Islamic Interpretation of Geological Phenomena: A Study on Mountain Movements in the Light of the Quran” (2024), dengan menerapkan pendekatan interdisipliner antara tafsir Al-Qur’an dan geologi modern melalui studi literatur dan pemodelan komputer.
Penelitian ini menemukan bahwa konsep pergerakan gunung dalam Al-Qur’an dapat dikaitkan dengan plate tectonics, menunjukkan bahwa pemahaman sains modern semakin mendukung wahyu dalam Al-Qur’an.
Dengan demikian, kajian tafsir Q.S. Ath-Thur ayat 10 tidak hanya memperkaya pemahaman keagamaan tetapi juga berkontribusi pada dialog antara sains dan Islam, yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan modern.
0 Komentar