Salah seorang Professor UIN Alauddin, Prof. Dr. H. M. Sewang, M.A. yang sering menulis tentang persatuan umat. Beliau adalah Guru Besar dalam Sejarah Peradaban Islam. Beliau malang melintang dalam berbagai tugas tambahan (jabatan di dalam lingkup IAIN/UIN Alauddin Makassar. Karir beliau cukup cemerlang. Beliau pernah menjadi asisten direktur pascasarjana UIN Alauddin, direktur program Pascasarjana UIN Alauddin, Wakil Rektor 1 bidang akademik dan pengembangan lembaga. Hingga usia beliau yang tidak memungkinkan lagi menduduki posisi jabatan, beliau kembali menjadi guru besar tanpa tugas tambahan di di UIN Alauddin Makassar. Beliau kemudian diberi amanah pengabdian masyarakat dengan terpilihnya menjadi Ketua Umum DPP IMMIM. Setelah beliau berakhir masa jabatannya beliau kembali terpilih untuk periode kedua hingga saat ini (2021).

Dalam kondisi kesehatan yang mulai menurun, semangat menulisnya tidak pernah ikut turun. Hampir setiap hari beliau menulis hasil-hasil pikiran dan bacaan beliau. Tampaknya, beliau selalu menghubungkan tulisannya dengan posisinya sebagai Ketua DPP-IMMIM. IMMIM memiliki motto "bersatu dalam akidah, toleransi khilafiyah dan furu'. Ini merupakan ide yang dicetuskan oleh pounding father IMMIM, alm. H. Fadli Lurang.

Ini dicetuskan sebagai respon atas fenomena

KHAZANAH SEJARAH:

PERSATUAN UMAT DAN SALING MEMAHAMI PERBEDAAN (1)

by Ahmad M. Sewang 


Saya memimpikan suatu ketika umat bersatu di bawah naungan ketokohan seorang pemimpin yang dengan wibawanya dia didengar mayoritas umat. Banyak orang beranggapan bahwa cits-cita itu, sama dengan mimpi di siang bolong yang impossible, sulit terwujud dalam realitas. Mengingat jurang konflik di kalangan umat begitu lebar. Mungkin juga dengan kepentingan tertentu ada di kalangangan umat tidak setuju.


Tetapi saya berpandangan bahwa biarlah orang lain menganggap sebuah khayalan yang mustahil, bagai kodok merindukan bulan. Bukankah begitu banyak yang mustahil di suatu masa di dunia ini di kemudian hari bisa terwujud dalam kenyataan? Sebagai contoh ketika awal perjuangan kemerdekaan banyak yang menganggap mustahil Indonesia bisa metdeka dengan alasan, "jarum pun tak mampu diciptakan," apa lagi ingin merdeka. Bagaimana mungkin merdeka dengan senjata sederhana berupa banbu runcing melawan senjata canggih berupa pesawat pembom dan panser. Tetapi dalam kenyataan, akhirnya kita bisa merdeka.


Lagi pula seorang pejuang dahulu, seperti Ir. Soekarno berkata, "Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit." Saya sadar bahwa persatuan umat tidak semudah membalik telapak tangan, tantangan pertama datang dari dalam umat berupa perbedaan di kalangan sebdiri.  Beratnya tantangan yang dihadapi, maka saya tidak berambisi bahwa cita-cita persatuan itu akan terwujud semasih saya masih hidup. Boleh jadi baru bisa terwujud beberapa tahun setelah dipanggil Allah swt. ke hadirat-Nya atau mungkin baru terwujud setelah satu abad tulang belulang saya sudah hancur dalam pusara. Andai lama baru terealisasi, saya akan bersyukur pada-Nya dan menganggap cita-cita saya sudah terpenuhi.


Untuk mewujudkan mimpi itu  saya mulai melakukan langkah-langkah kecil dari sekarang, yaitu:

1. Saya memanfaatkan amanah untuk memipin DPP IMMIM dengan berusaha mempertemukan para sahabat dan memulai menikmati hidup di tengah para pengurus dan para mubalig yang memiliki latar belakang ormas Islam yang berbeda-beda. Jadi telah ada usaha menggalang persatuan mulai dari organisasi kecil di tingkat daerah.


2. Saya juga telah menulis sebuah buku kecil berjudul, "Persatuan Umat dan Saling Memahami Perbedaan." Artinya, untuk bisa bersatu, maka harus saling memahami perbedaan, terutama masalah furu'. Masalah perbedaan adalah sunatullah atau al-sarwah (kekayaan) sebagai upaya ber-fastabiqul khaerat. Jadi persatuan yang dimaksud tidak termasuk persatuan dalam masalah furu,' Prof. Dr. Syekh Yusuf al-Qardawi, (Direktur Uni Ulama Se Dunia), berkata, jika ada orang memiliki keinginan bersatu secara total atau keseluruhan dengan menghiraukan perbedaan, termasuk masalah furu, maka beliau mengingatkan, لم يكن وقوعه , (tidak mungkin terjadi dalan realitas). Sebab berarti orang itu telah menentang sunatullah itu sendiri. Jadi persyaratan utama persatuan umat adalah harus lebih dahulu siap menerima perbedaan, dengan kata lain seperti dinyatakan banyak orang, "Unity in Diversity."  Itulah yang saya tulis dalam buku Persatuan Umat dan Saling Memahami Perbedaan. Buku ini telah saya sosialiasikan pada beberapa ormas Islam. (Bersambung)


Wasalam,

Makassar, 26 Agustus 2021

Posting Komentar

0 Komentar