JIKA TUJUANMU HANYA ALLAH SWT.

Penulis: Muhamad Yusuf

Prolog

Jika tujuan kita hanya Allah, lalu mengapa hati terkadang tak ikhlas? Pola hidup kita jelas, simpel, dan terang. Ada nikmat yang wajib disyukuri, ada musibah yang harus disikapi dengan sabar, ada tawakkal, ikhtiar, dan doa. Beratnya hidup ini karena terkadang bagian yang seharusnya kita lepas dan serahkan kita mau genggam erat. Sebaliknya, yang mesti kita genggam erat justru malah kita lepaskan.

Menyimak Cerita Kawan

Rasanya, kok ini mirip dengan salah satu pengalaman saya. Ada kawan saya bercerita. Dia mengalami berkali-kali keadaan atau capaian yang mau lepas, dia lepaskan. Sebut saja ia pernah mendapatkan posisi yang diperebutkan banyak orang. Bagi banyak orang, itu tak mudah mendapatkannya. Mestinya dipertahankan. Saat itu lepas, dia tak berupaya untuk menggenggamnya lagi. Dia pulang dan berpindah ke suatu daerah,  malah tak ada kendala. Apalagi pulang ke tempat yang ia memang rindukan untuk kembali.

Banyak orang merasa bersalah, karena orang-orang yang ditinggalkan merasa telah memperlakukannya dengan tak wajar dan penuh spekulasi. Banyak spekulasi yang bermunculan. Pokoknya, dibuatkan isu dan stigma negatif agar orang-orang yang merasa bersalah tidak sebaliknya mereka yang distigmakan sebagai penyebabnya. 

Alhasil, ia hanya mendengarkan spekulasi menggelinding menjadi besar. Akibatnya, kawan itu sempat distigmakan negatif. Pandangan orang-orang terhadapnya negatif. Hal itu berlangsung hampir setahun. Seiring waktu berjalan, kesuksesannya semakin muncul satu persatu. 

Di sisi lain orang-orang yang berspekulasi pun satu persatu muncul kekacauan dan bubarnya soliditas diantara mereka. Mereka merasakan akibat spekulasi yang dibuat telah memenjarakan nuraninya. Mereka ingin meminta maaf kepada orang (kawan) yang menjadi korbannya. Tapi, yang bersangkutan sejak awal telah merelakan itu terjadi dan tidak pernah mempermasalahkan. Maka ia pun tenang. 

Indahnya Menerima Takdir

Karena segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ada di bawah kekuasaan Allah secara mutlak, dan tidaklah Allah menakdirkan sesuatu melainkan pasti adanya hikmah dan tujuan di dalamnya. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Al Anbiya ayat 35, berikut.

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”

Dari ayat tersebut bisa kita pahami bahwa segala kebaikan dan keburukan itu adalah takdir Allah dalam rangka menguji hamba-hamba-Nya, untuk mengetahui siapa yang paling baik amalannya. Karena pada sesungguhnya setiap manusia akan kembali kepada Allah dan akan dihisab, selanjutnya dibalas amalan-amalannya. Jika baik maka baik balasannya, jika buruk amalan maka demikian pula balasannya.

Kalau menurut saya, jika direnungkan lebih dalam maka sesungguhnya nikmat dan musibah itu sama saja. Keduanya adalah ujian meski jenis soalnya beda. Yaitu soal nikmat dan soal musibah. Nikmat itu jika disyukuri itu kebaikan. Sebaliknya, jika diingkari maka berakibat buruk.

Seperti itu pula musibah. Jika disikapi dengan sabar maka itu baik. Sebaliknya, jika tidak tabah maka akibatnya buruk. Musibah memang lebih sering dilekatkan satu paket dengan ujian. Padahal, nikmat itu juga ujian.

Soal nikmat sesungguhnya adalah cara Tuhan menakar tingkat syukur hamba-hamba-Nya. Sedangkan musibah merupakan soal untuk menakar kualitas sabar hamba-Nya. Jika ia bersyukur atas nikmat itu, atau bersabar atas musibah itu maka keduanya adalah kebaikan.

Lalu bagaimana agar ikhlas terhadap kedua takdir di atas?

1. Bersyukur ketika mendapat kebaikan

Tatkala seseorang meyakini bahwa kebaikan itu datang dari Allah dan semua kenikmatan hanya dari Allah, maka keyakinan ini akan membawanya untuk mensyukuri segala kenikmatan yang dia peroleh. Kita kadang-kadang ingin terus mengoleksi nikmat dalam jumlah yang lebih besar dan lebih banyak. Kadang lupa menghitung berapa nikmat yang belum kita respon dengan syukur.

2. Bersabar ketika mendapat keburukan atau kesusahan

Ini adalah penyempurnaan dari syukur terhadap nikmat. Karena setiap kehidupan tidak lepas dari kenikmatan dan kesusahan, sedangkan kesusahan butuh kesabaran. Dengan meyakini bahwa kesusahan adalah takdir Allah yang pasti mengandung hikmah, yang di antaranya adalah menghapuskan dosa dan kesalahan, niscaya seorang hamba akan bisa bersabar. Akhirnya, sabar adalah satu kebaikan.

3. Tawakal dalam segala hal

Tawakal adalah penyandaran hati hanya kepada Allah (Penguasa kebaikan dan keburukan) dalam usaha meraih kebaikan dan menolak keburukan, disertai dengan keyakinan dan kepercayaan terhadap Allah Swt. Maka, tawakal seseorang tidak akan menjadi benar dan sempurna, kecuali jika dia benar-benar yakin bahwa kebaikan dan keburukan itu hanya dikuasai oleh Allah Swt. 

Jika

Nikmat    = syukur

Musibah = sabar

Maka:

Syukur + sabar = kebaikan berganda.

Orang yang bersyukur atas nikmat Allah dan bersabar atas musibah maka mereka adalah orang-orang yang dilipatgandakan dan disempurnakan kebaikannya oleh Allah. Sungguh pengetahuan kita sangat terbatas, sehingga kadang kita berburuk sangka kepada Allah.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

4. Tidak sombong ketika mendapat kebaikan dan tidak putus asa ketiga gagal

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendirian melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al-Hadid: 22-23).

5. Selalu memohon pertolongan dan taufik dari-Nya

Ketika seorang hamba yakin bahwa kebaikan dan keburukan semata dikuasai oleh Allah, maka hamba yang jujur akan senantiasa memohon pertolongan dan taufik kepada Allah. Agar mendapatkan kebaikan dan jauh dari keburukan, serta dimudahkan dalam ketaatan dan ibadah serta dijauhkan dari dosa dan kemaksiatan.

Penutup

Tugas manusia adalah menaati Allah dan Rasul-Nya. Bersyukur atas nikmat Allah dan bersabar atas musibah, sempurnakan ikhtiar, totalkan tawakkal, berbaik sangka kepada Allah. Itu semua adalah kebaikan.

Posting Komentar

0 Komentar