Pendahuluan
Pada tulisan sebelumnya, saya sudah menerangkan makna Ramadhan. Ramadhan bisa mengandung arti membakar, karena pelaksanaannya pada musim panas. Kemudian makna ini diadaptasi kedalam makna yang substantif, yaitu membakar dosa-dosa orang-orang mukmin yang beriman atas dasar iman dan penuh harap akan ampunan Allah atas dosa-dosa mereka.
Perintah puasa mempunyai landasan teologis yaitu tegas dalam sumber-sumber otoritatif dalam Islam, baik Al-Qur'an maupun dalam hadis-hadis Nabi Saw. Syariat puasa mempunyai sejarah tersendiri. Syariat puasa bukanlah merupakan syariat bagi umat Rasulullah Saw. Namun, khusus puasa di bulan Ramadhan itu merupakan syariat bagi Rasulullah Saw. Bahkan merupakan bagian dari rukun Islam.
Sejarah Puasa Ramadhan dalam Alquran dan Hadis
Sejarah puasa Ramadhan merupakan yang melatar belakangi puasa Ramadhan itu menjadi ibadah yang harus dilakukan khususnya di bulan Ramadhan. Sejarah puasa Ramadhan bagi umat Islam memiliki makna yang sangat mendalam terutama untuk mempercayai adanya kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan dan beribadah kepada Allah Swt.
Puasa juga dilakukan tidak hanya saat waktu bulan Ramadhan saja. Namun orang Islam juga melakukan puasa-puasa lain di luar bulan Ramadhan. Syariat puasa mengalami penyesuaian. Meskipun puasa sudah ada sebelum syariat puasa ramadhan yang disyariatkan kepada Rasulullah Saw. dan umatnya.
Sejarah puasa di bulan Ramadhan dimulai sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Awal mula perintah menunaikan ibadah puasa Ramadhan yakni pada bulan Sya'ban tahun kedua Hijriah. Ketika itu, umat Islam berhijrah dari Makkah menuju Madinah dan diperintahkan Allah untuk memindahkan kiblat dari Masjid Al-Aqsa ke Masjidil Haram.
Menurut hadis tentang puasa yang diriwayatkan Mu'adz bin Jabal, Nabi Muhammad Saw. mendapatkan perintah untuk puasa Ramadan setelah melaksanakan puasa 'Asyura dan puasa tiga hari setiap bulan. Hingga akhirnya, puasa Ramadan mulai diwajibkan pada tahun ke-2 Hijriah (624 Masehi), bersamaan dengan syariat salat Idul Fitri, zakat fitrah, dan kurban.
Selain tercantum pada Q.S Al-Baqarah ayat 183, sejarah puasa Ramadan menjadi wajib
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Terjemahnya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa'.
Makna 'kama kutiba 'ala al-laziina minqablikum' sebagaimana telah diwajibkan kepada umat (terdahulu) sebelum kalian'.... Kalimat mengandunh dimensi historis. Sebab, puasa sudah pernah disyariatkan.
Pada kalimat selanjutnya 'Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian', Imam Al-Alusi menjelaskan tafsirnya, Ruhul Ma'ani adalah puasa sudah dilakukan sebelum masa Nabi Muhammad Saw. Yang dimaksud dengan 'orang-orang sebelum kalian' adalah para Nabi sejak masa Nabi Adam As sampai sekarang, sebagaimana keumuman yang ditunjukan dengan adanya isim Maushul.
Lalu kalimat 'Agar Kalian Bertakwa', Imam At Thabari menafsirkan ini sebagai ajakan agar umat Islam bertaqwa dengan menjauhkan diri dari makan, minum, dan ber-jimak dengan wanita ketika puasa. Penjelasannya lengkapnya adalah sebagai berikut: Maksudnya mudah-mudahan kalian bertaqwa karena sebab puasa. Karena puasa adalah wasilah menuju taqwa. Sebab puasa dapat menundukkan nafsu dan mengalahkan syahwat. Sebagian ahli tafsir juga menyatakan, maksudnya agar kalian waspada terhadap syahwat yang muncul dari makanan, minuman, dan jimak.
Dijelaskan pula dalam Q.S Al-Baqarah ayat 185, berbunyi:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Terjemahan:
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."
Sejarah puasa Ramadan juga diterangkan dalam dalam beberapa hadis shahih yang menyebutkan bahwa puasa Ramadan merupakan perintah yang wajib bagi umat Islam. Terdapat beberapa hadis yang menerangkan tentang kewajiban puasa Ramadan, diantaranya, sebagai berikut:
1. Hadis Riwayat Ahmad Nasa’i dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ Nomor hadis 55. Dalam hadis ini, Rasulullah Saw. bersabda:
Rasulullah Saw. bersabda:
أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْهِ لَيْلَةٌ هِيَ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ
Artinya: "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, di mana Allah mewajibkan puasa di bulan itu kepada kamu. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan durhaka dibelenggu. Di bulan itu terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa dihalangi mendapatkan kebaikannya, maka ia telah terhalangi".
Pada teks hadis tersebut kata 'syahru Ramadhan' ditemukan secara eksplisit. Begitu juga di dalam Al-Qur'an. Artinya, term "bulan ramadhan" sudah dikenal oleh masyarakat Arab.
2. Hadis Riwayat Bukhari Muslim
Dalam hadis Riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah Saw. bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
"Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
Bagi para muballigh, hadis ini sangat masyhur, karena sering dijadikan landasan untuk memotivasi jamaah untuk memanfaatkan momentum Ramadhan melakukan berbagai amalan dengan sungguh-sungguh. Tentu saja dengan harapan mendapatkan ampunan Allah atas dosa-dosa mereka.
3. HR. Bukhari Nomor 1909
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ
Artinya: "Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berhari rayalah karena melihatnya, jika hilal hilang dari penglihatanmu maka sempurnakan bilangan Sya’ban sampai tiga puluh hari".
Hadis menerangkan tentang mulai dan berakhirnya bulan Ramadhan. Masuknya bulan Ramadhan mengharuskan atau mewajibkan kaum Muslimin untuk menjalankan puasa Ramadhan kecuali bagi mereka yang diatur oleh syarak. Sebaliknya, munculnya bukti yang menunjukkan bahwa Ramadhan berakhir maka masuk 1 Syawal yang berarti seluruh kaum muslimin wajib berbuka kecuali karena alasan yang dibenarkan oleh syarak juga.
Peristiwa Penting dalam Sejarah Bulan Ramadhan
Sejarah puasa Ramadan tidak terlepas dari berbagai peristiwa penting yang terjadi pada bulan suci Ramadhan itu sendiri. Hal itu juga diterangkan dalam teks otoritatif Islam.
Ada beberapa peristiwa penting dalam sejarah bulan Ramadhan dan beberapa hikmah yang dapat diambil, sebagai berikut:
1. Turunnya Alquran (Nuzulul Qur'an)
Kewajiban berpuasa Ramadhan bertepatan dengan sejarah turunnya Alquran pertama kali sebagai wahyu yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Peristiwa yang dikenal dengan Nuzulul Qur'an itu terjadi di Gua Hira melalui perantara malaikat Jibril.
Ketika itu, malaikat Jibril membacakan wahyu pertama yaitu Surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5. Turunnya ayat Alquran kepada Rasulullah ini sekaligus menjadi momentum pengangkatan Nabi Muhammad Saw. menjadi utusan Allah di usia 40 tahun.
2. Perang Badar
Perang Badar atau disebut Ghazwah Badr Al-Kubra merupakan pertempuran besar antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy.
Peristiwa yang berlangsung di pertengahan bulan Ramadhan (pada hari Jumat, 17 Ramadan) sekaligus menandai awal kejayaan kaum Muslimin.
Pada perang ini, Nabi Muhammad SAW membawa serta 313 pasukan Muslim dengan 600 ekor kuda dan 700 ekor unta, untuk menghadapi 950 pasukan lawan. Dan, dari 313 pasukan Muslimin yang ikut berperang, sebanyak 14 orang gugur (mati syahid). Ada 70 pasukan lawan yang ditawan, salah satunya Abu Jahal.
Dengan kemenangan umat Muslimin pada perang itu, Badar yang letaknya kurang lebih dari 145 km arah barat laut dari kota Madinah menjadi saksi atas kebesaran Allah dan keimanan para Muslimin.
3. Penaklukkan Kota Makkah
Bersama dengan para sahabat, Nabi Muhammad berhasil menaklukkan Kota Makkah dalam perang Fath Mekah pada 20 Ramadhan tahun 8 Hijriah. Perang ini dipicu oleh kaum Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiyah dan bersekongkol dengan kabilah lain untuk memerangi orang-orang yang berdamai dengan Rasulullah Saw.
Dalam perang ini, Nabi Muhammad memerintahkan sebanyak 10.000 pasukan Muslim. Pasukan dipimpin oleh Khalid bin Walid sebagai panglima perang. Pasukan Muslim berhasil menang, meski berperang dalam kondisi berpuasa. Tentara Quraisy akhirnya menyerah.
Usai perang, Nabi Muhammad memerintahkan pasukan Muslim untuk menghancurkan sebanyak 360 berhala di sekitar Ka'bah. Ini adalah upaya menghilangkan jejak artefak sejarah kesyirikan dan menggantinya dengan tauhid.
Penutup.
Syariat puasa bukan syariat baru. Namun khusus puasa Ramadhan, itu adalah ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw. yang menjadi kewajiban bagi setiap muslim sesuai ketentuan yang diatur. Bahkan, menjadi salah satu rukun Islam.
Ibadah ini (puasa Ramadhan) memiliki fungsi spritual dan fungsi sosial yang sangat kental. Fungsi spritual untuk.meraih takwa kepada Allah. Sedangkan fungsi sosial, puasa mengajarkan kebersamaan, kepedulian, tolong menolong, dan berbagi kepada sesama, serta mengurangi gaya hidup individualistik.

0 Komentar