Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Samata, 18-03-2021
Catatan Awal
Tulisan ini saya hadirkan buat para mahasiswa untuk mengenang jasa para pahlawan kusuma bangsa, khususnya proklamator kemerdekaan negara Republik Indonesia, Bung Hatta. Ini dimaksudkan agar dapat menginsipirasi Anda dalam meneladani hal-hal yang relevan di tengah kondisi bangsa yang masih tercatat sebagai negara yang korup. Sementara di sisi lain, jasa pahlawan seolah tenggelam terlupakan di tengah euforia kekuasaan. Salah satunya adalah sang proklamator, Bung Hatta.
Nama Bung Hatta saya kenal sejak tahun 1982. Kala itu saya masuk kelas 1 SD. Nama beliau saya kenal sebagai proklamator kemerdekaan RI mendampingi Bung Karno. Bung Karno atau Ir. Soekarno sebagai Presiden RI dan Bung Hatta sebagai Wakilnya. Nama keduanya tercantum rapi pada teks proklamasi. Selanjutnya saya membaca dari buku-buku sejarah. Kini, banyak tulisan tentang beliau. Di tengah tulisan yang banyak itu, tulisan ini merupakan respon saya atas cerita haru tentang beliau di tengah euforia praktek sebagian pejabat publik. Hal ini sekaligus mempertanyakan kehadiran negara untuk para pahlawan dan keluarganya.
Dibandingkan saat ini, persaingan meraih jabatan menjadi pembicaraan yang tidak asing lagi. Bagaimana tidak, posisi atau jabatan di jajaran pemerintahan identik dengan fasilitas dan kemewahan. Identik pula dengan penghasilan tinggi. Gaji sih, tidak terlalu menggiurkan, sudah tertera nominalnya. Namun, pendapatan di luar gaji itu yang menarik.
Sudah menjadi rahasia umum, ketika orang mencalonkan diri menjadi calon pejabat publik berarti bertarung mendapatkan "lahan-lahan basah". Mendapatkan posisi itu berarti mendapatkan otoritas dan legalitas untuk mengatur penggunaan APBN dan APBD serta memperoleh bagian darinya berdasarkan UU dan peraturan. Namun, tidak sedikit juga yang memperolehnya secara melawan hukum alias korupsi, gratifikasi, mark up, dan cara-cara ilegal lainnya.
Tentu saja, di tengah maraknya korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat publik, tetapi ada pejabat tertentu yang memiliki integritas yang tinggi. Di republik ini ada pejabat negara yang meninggalkan nama yang harum dan layak diteladani. Salah satu diantaranya adalah wakil presiden RI pertama, Bung Hatta. Beliau meninggalkan jejak yang sungguh mengharukan. Bagaimana tidak, sang proklamator kemerdekaan RI itu keadaan ekonominya yang sangat terbatas. Namun, setega itukah penerus bangsa membiarkan pendiri republik ini, Bung Hatta dan keluarganya hidup dalam keterbatasan ekonom?
Mesin Jahit Impian Istri
Suatu hari, di tahun 1950, Wakil Presiden Muhammad Hatta pulang ke rumahnya. Begitu menginjakkan kaki di rumah, ia langsung ditanya sang istri, Ny. Rahmi Rachim, tentang kebijakan pemotongan nilai mata ORI (Oeang Republik Indonesia) dari 100 menjadi 1. Kebijakan itu tentu menjadikan impian ibu Rahmi menjadi kandas.
Pantas saja hal itu ditanyakan, sebab, Ny Rahmi tidak bisa membeli mesin jahit yang diidam-idamkannya akibat pengurangan nilai mata uang itu. Padahal, ia sudah cukup lama menabung untuk membeli mesin jahit baru. Tapi, apa kata Bung Hatta?
"Sungguh pun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapapun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya?" jawab Bung Hatta.
Kisah mesin jahit itu merupakan salah satu contoh dari kesederhanaan hidup proklamator RI Bung Hatta (1902-1980) dan keluarganya.
Berhemat Sejak Kecil
Sejak kecil, Bung Hatta sudah dikenal hemat dan suka menabung. Akan tetapi, uang tabungannya itu selalu habis untuk keperluan sehari-hari dan membantu orang yang memerlukan. Bung Hatta suka menabung namun punya kebiasaan membantu orang lain membutuhkan.
Pendidikan keluarga dan kebiasaan hidup menjadi faktor yang kuat berpengaruh terhadap integritas pejabat publik. Oleh karena pencegahan korupsi mesti dimulai menjadikan keluarga atau rumah tangga sebagai pilar utama.
Bung Hatta & Sepatu Bally
Sebuah tema "Bung Hatta & Sepatu Bally yang Tak Pernah Terbeli" seperti dikutip dari detikNews-Jakarta dan berbagai sumber lainnya. Jika Anda mendengar nama Bung Hatta, wakil presiden RI pertama dengan kehidupan yang terkesan sungguh memprihatinkan, tapi itulah faktanya.
Padahal, dandanan mentereng, rumah, dan mobil mewah agaknya sudah menjadi gaya hidup para pejabat saat ini. Berbagai kasus tindakan pidana korupsi yang dilakukan oleh sejumlah oknum pejabat publik. Masyarakat pun kembali merindukan figur-figur pemimpin yang sederhana dan pantas untuk dijadikan teladan. Untuk
Impian yang tak Terwujud
Ada kisah yang mengharukan dari kehidupan sang proklamator ini, yakni keinginannya untuk memiliki sepatu Bally. Sepatu Bally merupakan sepatu buatan Swiss. Pada zamannya, sepatu tersebut menjadi barang yang bermutu tinggi dan sangat mahal harganya.
T. Agus Khaidir dalam kolom Ngopi Sore Tribun Medan mengutip pernyataan Meutia Hatta soal keinginan sang ayah.
Waktu itu, Bung Hatta melihat iklan sepatu Bally di salah satu media cetak. Ia pun menggunting dan menyimpan gambar sepatu tersebut. Bung Hatta pun mengatakan suatu saat ia ingin memiliki sepatu tersebut.
Melihat apa yang dilakukan Hatta, istrinya Rahmi bertanya, bagaimana sepatu itu bisa dibeli. Hatta pun menjawab, "Saya tabung dari uang pensiun."
Sayang, kebutuhan keluarga Bung Hatta tak pernah luang. Ada saja keperluan rumah tangga yang harus dipenuhi hingga wakil presiden pertama RI ini harus mengesampingkan keinginannya.
Hingga akhirnya, Bung Hatta meninggal pada 14 Maret 1980. Ia meninggal di usia 72 tahun dan hingga akhir hayatnya sepatu impiannya itu tak juga bisa terbeli.
Dikutip dari Intisari, hingga wafat, Hatta ternyata masih menyimpan guntingan iklan sepatu Bally tersebut. Kertas usang itu menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta, sang proklamator, founding father republik ini.
Saking mepetnya keuangan Bung Hatta, sampai-sampai sepasang sepatu Bally pun tidak pernah terbeli hingga akhir hayatnya. Tidak bisa dibayangkan, seorang yang pernah menjadi nomor 2 di negeri ini tidak pernah bisa membeli sepasang sepatu. Mimpi itu masih berupa guntingan iklan sepatu Bally yang tetap disimpannya dengan rapi hingga wafat pada 1980.
Bung Hatta baru menikah dengan Ny Rahmi 3 bulan setelah memproklamasikan kemerdekaan RI bersama Bung Karno atau tepatnya pada 18 November 1945. Saat itu, ia berumur 43 tahun. Apa yang dipersembahkan Bung Hatta sebagai mas kawin? Hanya buku "Alam Pikiran Yunani" yang dikarangnya sendiri semasa dibuang ke Banda Neira tahun 1930-an.
Uang Pensiun yang Tak Cukup
Setelah mengundurkan diri dari jabatan Wapres pada tahun 1956, keuangan keluarga Bung Hatta semakin kritis. Uang pensiun yang didapatkannya amat kecil. Dalam buku "Pribadi Manusia Hatta, Seri 1," Ny. Rahmi menceritakan, Bung Hatta pernah marah ketika anaknya usul agar keluarga menaruh bokor sebagai tempat uang sumbangan tamu yang berkunjung.
Ny. Rahmi mengenang, Bung Hatta suatu ketika terkejut menerima rekening listrik yang tinggi sekali. "Bagaimana saya bisa membayar dengan pensiun saya?" kata Bung Hatta. Bung Hatta mengirim surat kepada Gubernur DKI Ali Sadikin agar memotong uang pensiunnya untuk bayar rekening listrik. Akan tetapi, Pemprov DKI kemudian menanggung seluruh biaya listrik dan PAM keluarga Bung Hatta.
Bung Hatta adalah pendiri Republik Indonesia, negarawan tulen, dan seorang ekonom yang handal. Di balik semua itu, ia juga adalah sosok yang rendah hati. Sifat kesederhanaannya pun dikenal sepanjang masa. Musisi Iwan Fals mengabadikan kepribadian Bung Hatta itu dalam sebuah lagu berjudul "Bung Hatta".
Saat Bung Hatta tak lagi menjabat wakil presiden, ia menghidupi keluarganya dari honor sebagai pembicara dan penulis. Namun, uang tersebut juga tak cukup men-cover semua kebutuhan.
Setelah tidak lagi jadi wakil presiden, ayah saya menghidupi kami dari honor-honornya sebagai pembicara, mengajar, dan menulis di koran. Dan uang itu, setelah dikumpul-kumpul, jumlahnya memang tidak pernah cukup. Setiap bulan kami selalu menunggak,
Menghargai Jasa Proklamator
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Mereka rela mengorbankan hidupnya demi menjaga dan mempertahankan Negara Indonesia.
Banyak pahlawan yang dimiliki Indonesia, mulai dari pahlawan nasional, pahlawan kemerdekaan Indonesia, pahlawan proklamator, dan pahlawan revolusi. Dalam konteks ini, Bung Hatta merupakan pahlawan proklamator kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Beliau juga ikut berjuang melawan penjajah sehingga ia pernah diasingkan.
Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 78 Tahun 2018 tentang Persyaratan dan Tata Cara serta Besaran Tunjangan Berkelanjutan Bagi Pejuang, Perintis Kemerdekaan, dan Keluarga Pahlawan Nasional bahwa:
"Pemberian Tunjangan Berkelanjutan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi Pejuang, Perintis Kemerdekaan, dan Keluarga Pahlawan Nasional sebagai wujud penghargaan Negara.” Demikian bunyi Pasal 3 Perpres.
Penerima Tunjangan Berkelanjutan, menurut Perpres ini, terdiri atas Pejuang, Perintis Kemerdekaan, dan Keluarga Pahlawan Nasional. Disebutkan dalam Perpres ini, pemberian Tunjangan Berkelanjutan bagi Pejuang berupa tunjangan veteran dan dana kehormatan.
Soal besaran pun diatur. Sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945 bahwa pemberian tunjangan itu harus mampu menghadirkan kesejahteraan bagi penerima dan keluarganya. Itulah tujuan bernegara. Begitu banyak uang negara yang sesungguhnya uang rakyat yang raib dikorupsi oleh generasi pelanjut. Sebagian berhasil dikembalikan dan sebagian berhasil disembunyikan. Para koruptor adalah penghianat bangsa.
Menghargai Pahlawan & Melawan Koruptor
Sesuai UU, Negara harus tegas dan peraturan terhadap para koruptor. Di sisi lain, negara mesti berpihak kepada para pahlawan kusuma bangsa dan keluarganya. Seluruh rakyat Indonesia harus bangkit bersatu dan bersama melawan kejahatan korupsi. Sebab, sesuai UU, korupsi adalah extra-ordinary crime (kejahatan luar biasa). Korupsi merupakan kejahatan yang bertentangan dengan tujuan bernegara dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kejahatan korupsi itu justru telah mengkhianati jasa para pahlawan. Mereka juga mengkhianati sumpah jabatan mereka untuk mengemban amanat sebaik-sebaiknya dan seadil-adilnya, melaksanakan Pancasila dan UUD 1945.
Korupsi merupakan parasit terhadap pertumbuhan kesejahteraan bangsa. Parasit adalah pengganggu yang mesti dicabut. Sebab, kehadiran selalu bergantung, menempel, dan berlindung, serta mengganggu. Kesejahteraan tidak bisa diwujudkan dengan ramainya tindak pidana korupsi. Karena itu, rakyat mesti bangkit melawan korupsi. Salah satunya adalah menolak tegas terhadap seluruh praktek money politics (politik bagi-bagi uang) dari calon pejabat menjelang atau saat pemungutan suara.
Kita harus mengenang dan menghargai jasa pahlawan. Ada momentum paling relevan untuk membangkitkan kesadaran itu berkaitan dengan mpmentum penting, yaitu hari pahlawan dan hati anti korupsi. Semangat kepahlawanan melawan kejahatan luar biasa "korupsi' merupakan konteks yang relevan bagi bangsa saat ini.
Catatan Akhir
Ketika membaca kesederhanaan Bung Hatta, saya salut dan kagum atas sikap dan prinsip beliau. Akan tetapi di sisi lain, saya mempertanyakan kehadiran dan penghargaan negara terhadap orang-orang yang berjasa terhadap negara. Rasanya tidak wajar apabila seorang proklamator kemerdekaan RI dan wakil presiden paling bersejarah dibiarkan hidup bersama keluarganya dalam keterbatasan. Sedangkan korupsi kelas kakap masih terus terjadi.
Ada dua hal yang menjadi catatan kunci dari kisah Bung Hatta dan keluarganya. Pertama, Bung Hatta layak menjadi teladan bagi para pejabat publik. Kita membayangkan betapa besar pengabdian beliau. Beliau pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia ini bersama Bung Karno, namun beliau hanya menjadikan jabatan itu sebagai pengabdian semata. Bukan mencari fasilitas dan kemewahan.
Kedua, penerus bangsa (para pejabat) setelah beliau tidak pandai berterimakasih terhadap jasa para pejuang bangsa. Semestinya, pejabat pemerintahan yang memahami dan mengupayakan kesejahteraan orang-orang pernah berjasa terhadap bangsa. Begitu pula keluarganya. Tidak hanya Bung Hatta dan keluarganya yang merasakan perlakuan negara terhadap diri mereka. Bahkan, masih banyak orang-orang berprestasi dan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional tetapi setelah itu kembali melarat di usia tuanya, sementara terlalu banyak uang negara yang dikorupsi oleh sejumlah oknum pejabat. Kesenjangan masih "menganga lebar' mewarnai penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Semoga Indonesia bangkit di tangan Anda (para mahasiswa) kelak.

0 Komentar