Oleh: Muhammad Yusuf
Di lereng Sumatera yang retak oleh banjir bandang Tapanuli Tengah 2025, ratusan gelondongan kayu ilegal mengambang sebagai monumen penebangan liar—artefak pengawasan HGU dan RTRW yang rapuh. Peringatan BMKG terabaikan, euforia pascabencana meledak, menyembunyikan kegagalan struktural tata kelola ekologis. Politisi, terpikat ROI elektoral, memuja panggung reaktif: citra pahlawan berlumpur, bukan pencegah sungai tenang. Tiga dinamika ekonomi politik—paradoks pencegahan, bias peringatan palsu, asimetri elektoral—mengungkap preferensi mematikan ini. Indonesia rawan bencana menuntut reformasi proaktif, atau nyawa dan fiskal abadi taruhan politik.
-------------
Bencana hidrometeorologi di Sumatera tahun 2025—terutama banjir bandang di Tapanuli Tengah—menyingkap pola sistemik yang mengerikan: ratusan gelondongan kayu ilegal sebagai artefak penebangan liar tak terkendali, yang lahir dari lemahnya pengawasan Hak Guna Usaha (HGU) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Siklus berulang ini—peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diabaikan, diikuti euforia pascabencana—mencerminkan kegagalan struktural dalam tata kelola ekologis. Di sini, politisi memprioritaskan pengembalian investasi (ROI) elektoral daripada pencegahan rasional.
Analisis ekonomi politik mengungkap tiga dinamika inti yang mendorong pendekatan reaktif:
1. Paradoks Pencegahan: Keberhasilan mitigasi menghasilkan "kegagalan tak kasat mata" (Wildavsky, 1988)—sungai mengalir normal, tanpa berita heroik. Sebaliknya, respons pascabencana menciptakan citra pahlawan melalui liputan media: pejabat berlumpur membagikan sembako, pelukan palsu kepada korban yang langsung melonjakkan elektabilitas, sementara reboisasi atau drainase adaptif menelan biaya tinggi tanpa apresiasi publik.
Politisi enggan investasi pencegahan karena hasilnya tak terlihat—tak ada sorotan kamera atau pujian publik saat bencana dicegah. Respons darurat justru beri keuntungan politik cepat: popularitas melonjak lewat aksi heroik terlihat. Akibatnya, biaya besar untuk langkah proaktif sia-sia tanpa pengakuan, sementara aksi reaktif murah tapi efektif secara elektoral.
2. Bias peringatan palsu: evakuasi pre-emptive berisiko backlash ekonomi—pasar sepi, tuduhan "lebay"—sehingga mendorong perjudian probabilitas: diam saat siaga BMKG aman jika tak banjir, tapi jika terjadi, cukup minta maaf sebagai "cobaan Tuhan". Fenomena ini mencerminkan aversion to loss dalam teori keputusan (Kahneman & Tversky, 1979), di mana false negative (mengabaikan peringatan) lebih disukai daripada false positive.
Jadi, pejabat lebih suka mengabaikan peringatan BMKG (false negative) karena risikonya rendah—jika tak banjir, aman tanpa kerugian ekonomi; jika banjir, cukup minta maaf—daripada evakuasi dini (false positive) yang picu protes "lebay" dan pasar sepi, sesuai bias menghindari kerugian dalam teori keputusan Kahneman-Tversky.
3. Asimetri ROI elektoral: penanganan visible (perahu karet, nasi bungkus) gratis dipromosikan via media sosial, sementara pencegahan jangka panjang—moratorium logging, InaTEWS berbasis AI—tak terekam sebagai kemenangan, kalah saing dengan proyek infrastruktur tangible di tengah anggaran defisit.
Paradigma ini tak berkelanjutan bagi Indonesia yang rawan bencana; reformasi imperatif mencakup integrasi GIS-RTRW, sanksi tegas terhadap illegal logging, dan alokasi 30% APBN Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mitigasi. Tanpa pergeseran dari panggung reaktif ke arsitektur proaktif, politisi akan abadi sebagai pemadam kebakaran—dengan nyawa dan fiskal sebagai taruhan.
----------------
Sumatera 2025 bukan sekadar banjir—ia adalah jeritan alam terhadap tata kelola rapuh. Paradigma reaktif, didorong paradoks pencegahan dan ROI elektoral, mengorbankan nyawa demi sorotan media. Reformasi tegas kini imperatif: GIS-RTRW terintegrasi, sanksi logging ilegal, 30% APBN BNPB untuk mitigasi proaktif. Pergeseran ini bukan pilihan, melainkan keharusan—dari politisi pemadam ke arsitek ketahanan. Indonesia rawan bencana tak boleh lagi bertaruh fiskal dan jiwa pada euforia pascabencana.
0 Komentar