KETIKA ILMU KEHILANGAN CAHAYA, KESOMBONGAN MENYAMAR JADI KEBENARAN

 Oleh: Muhammad Yusuf


Saya memulai tulisan esai ini dengan kutipan: "Ketika ilmu tak lagi mencerahkan, tapi menyilaukan, di situlah kesombongan mulai menyamar jadi kebenaran". Ini sejalan dengan perkataan imam Syafi'i:

Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Dalam gelap jiwa, ilmu datang bagai fajar, ibadah bagai embun subuh. Namun, tanpa kerendahan hati, cahaya itu menyilaukan, embun itu menguap sia-sia. Ibnu Taimiyyah memperingatkan: kesombongan racuni ilmu, riya' racuni ibadah. Manusia, perahu rapuh di lautan pengetahuan, tuna netra berlentera, semut hitam di batu malam. Hakikat kedekatan Ilahi bukan luas tahu atau panjang sujud, melainkan hati jernih, tunduk di hadapan-Nya. Mari renungkan: cahaya sejati menumbuhkan kasih, bukan membakar ego.

***

Ilmu sering digambarkan sebagai cahaya yang menerangi jalan manusia menuju kebenaran. Namun, cahaya itu pun berpotensi menyilaukan jika tak disertai kerendahan hati, berubah dari penerang menjadi pembakar jiwa.

Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Al-Fatawa (Jilid 10) mengingatkan dengan tajam: “Penyakit yang dibawa ilmu adalah kesombongan, sedangkan penyakit yang dibawa ibadah adalah riya’.” Dua pilar suci kehidupan rohani—ilmu dan ibadah—dapat berbalik menjadi racun mematikan ketika niatnya bergeser dari mencari ridha Allah SWT menuju pengakuan sesama.

Kesombongan ilmu muncul secara diam-diam, bukan pada pemula yang haus belajar, melainkan pada mereka yang merasa telah menguasai lautan pengetahuan. Mereka lupa hakikat ilmu sebagai samudra tak bertepi, di mana manusia hanyalah perahu rapuh yang rawan karam oleh gelombang ego.

Orang berilmu tapi sombong ibarat tuna netra yang menggendong lentera: cahayanya menerangi orang lain, tapi dirinya tetap terbungkus kegelapan. Ia lantang berbicara kebenaran, namun tuli terhadap nasihat; ia hafal ayat-ayat suci, tapi hatinya terkurung keinginan dipuji. Sebaliknya, yang berilmu dan rendah hati memahami setiap tambahan pengetahuan sebagai beban tanggung jawab baru, bukan gelar untuk dirayakan.

Demikian pula ibadah, di balik kesungguhannya tersembunyi riya’ yang lebih licin daripada dosa terang-terangan. Riya’ tak selalu berwujud pamer mencolok; seringkali ia hanya secercah kepuasan saat dipuji, atau setitik kebanggaan merasa lebih saleh daripada yang lain. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Al-Fawaid (Bab Riya’ dan Ikhlas) mengibaratkannya sebagai “semut hitam berlari di atas batu hitam pada malam gelap”—halus, tak bersuara, tapi menggerogoti pahala hingga habis.

Orang yang benar-benar mengenal Allah SWT justru semakin waspada terhadap dua racun ini. Mereka tak memamerkan amal, tak meninggikan pendapat, karena sadar segalanya hanyalah titipan sementara. Ilmu membuatnya tunduk, ibadah membungkamnya dalam khusyuk.

Ilmu tanpa adab adalah kehancuran berbalut intelektualitas; ibadah tanpa ikhlas adalah gerak jasad tanpa ruh. Sebab, kedekatan kepada Allah bukan diukur dari luasnya ilmu atau panjangnya sujud, melainkan kejernihan hati yang menempatkan diri tepat di hadapan-Nya—tanpa cela ego.

Ilmu sejati mengajak kita menenangkan jiwa, bukan meninggikan suara. Ibadah sejati melunakkan hati, bukan mengeraskan penghakiman. Bagai sinar matahari pagi yang lembut menumbuhkan kehidupan, ilmu dan ibadah yang murni menumbuhkan kasih sayang, bukan membakar nafsu diri.

***

Ilmu sejati melunakkan hati, ibadah murni membungkam ego. Bukan gelar intelektual atau rekam amal yang mendekatkan kita kepada Allah, melainkan kerendahan hati yang menjernihkan jiwa. Seperti matahari pagi menumbuhkan bumi tanpa sombong, jadilah pelajar abadi di lautan-Nya, penyembah diam dalam ikhlas. Hindari racun kesombongan dan riya'; biarkan ilmu menundukkanmu, ibadah mendiamkanmu. Hanya hati yang sadar titipan Ilahi lah yang selamat, menjelma cahaya kasih abadi.

***

Sumber:

Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Al-Fatawa, Jilid 10.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Fawaid, Bab Tentang Riya’ dan Ikhlas.

Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Kitab Adab Al-Ilm wa Al-Ta’allim.

Hamka, Tasawuf Modern (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), Bab Ilmu dan Kerendahan Hati.

Posting Komentar

0 Komentar