Oleh Muhammad Yusuf
Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar
Samata, 15/2/2021
Prolog
Saya pernah mendengar seorang alim besar (Anregurutta) berkata, 'di balik kesuksesan dan kebesaran seseorang laki-laki sukses terdapat perempuan yang hebat. Pertama, ibunya yang menyempurnakan kasih sayang dan cinta serta pendidikannya semasa kecil. Kedua, istrinya yang mendampingi dengan baik. Ketika ia lelah ada istri yang menguatkan. Ketika ia khilaf ada istri yang mengingatkan untuk bertakwa kepada Allah. Dan terpenting adalah adalah doa doa mereka (ibu dan istri) sangat mempengaruhi dan menentukan kesuksesan dan survivenya kesuksesan yang telah diraih.
Peran Ibu Imam Bukhari
Non-Arab
Pendidikan Keluarga
Imam Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab Ats-Tsiqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara’ dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang hukumnya bersifat syubhat (ragu-ragu), terlebih lebih terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Ayahnya adalah seorang ulama ber-madzhab Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.
Perhatiannya kepada ilmu hadis yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga dalam usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti “al-Mubarak” dan “al-Waki”. Ia berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadis yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah untuk mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadis. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien)
Gurunya
Bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadis-hadis shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadis yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadis. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadis antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang hadisnya dikutip dalam kitab Shahih-nya.
Kekuatan Memorinya
Pernah suatu ketika Bukhari muda dan beberapa murid lain mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tak pernah membuat catatan kuliah. Ia pun dicela teman-temannya karena dianggap membuang waktu dengan percuma karena tidak mencatatnya. Bukhari pun diam tak menjawab.
Hingga pada suatu hari Bukhari meminta teman-temannya membawa catatan mereka. Tercengang-lah mereka karena Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadis lengkap terinci dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.
Kekuatan ingatannya itu membuat ia diyakini telah menghafal sejuta hadis lengkap dengan rincian sumber dan perawinya. Guru agamanya, Syaikh Ishaq, ingin agar seseorang dapat menghimpun Hadis Nabi yang paling sahih dalam sebuah kitab. Imam Bukhari berjanji akan memenuhi hasrat gurunya itu. Sejuta hadis yang ia ketahui dari 80.000 perawi itu dipilihnya menjadi 7.275 hadis. Menurut Ibnu Hajar, ia memilih 9.082 hadis untuk kitab Sahih Bukhari yang masyhur itu. Butuh waktu hingga 16 tahun untuk Imam Bukhari menyelesaikan kitab tersebut.
Berziarah ke Mekah
Pada usia enam belas tahun, ia, bersama dengan saudara dan ibunya melakukan ziarah ke Mekah. Dari sana ia melakukan serangkaian perjalanan untuk meningkatkan pengetahuannya tentang hadits. Dia berkeliling ke semua pusat-pusat penting pembelajaran Islam pada masa itu, berbicara dengan ulama dan bertukar informasi tentang hadis. Dikatakan bahwa ia mendengar lebih dari 1.000 orang, dan belajar lebih dari 700.000 tradisi.
Menulis
Imam Bukhari menulis hadis dari 1080 orang yang berbeda yang semuanya sarjana. Namun, dia mendapat keuntungan paling banyak dari Ibnu Ishaq Rahway dan Ali Ibnu Madeeni (RA).
Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari para ulama dengan lima kategori yang berbeda. Dia juga meriwayatkan hadis dari pemikiran murid-muridnya yang percaya kepada kenyataan bahwa tidak ada orang yang dipanggil sebagai seorang sarjana hadis jika belum diriwayatkan oleh tetuanya, para pemudanya dan orang yang seumurnya.
Setelah enam belas tahun pergi, ia kembali ke Bukhara, dan ada menyusun al-Jami ‘as-Sahih, koleksi 7.275 tradisi teruji, diatur dalam bab sehingga mampu memenuhi sistem dasar yang lengkap dari ilmu hukum/ fiqih tanpa menggunakan hukum spekulatif.
Karya Monumental
Bukunya sangat diakui di kalangan umat muslim, dan dianggap koleksi hadis paling otentik (sebagian kecil ulama menganggap Sahih Muslim, yang disusun oleh murid Imam Bukhari, lebih otentik). Kebanyakan ulama menganggap tingkat keasliannya kedua setelah Al-Qur’an. Dia juga menulis kitab-kitab yang lain, termasuk al-Adab al-Mufrad, yang merupakan kumpulan hadis tentang etika dan tata krama, serta dua buku yang berisi biografi perawi hadis (isnad)..
Pada tahun 864 M/250 H, ia menetap di Nishapur. Saat itu di Neyshābūr ia bertemu Muslim bin al-Hajjaj. Dan mengangkatnya sebagai murid, dan akhirnya dianggap sebagai kolektor dan penyusun hadits Sahih Muslim, kedua setelah yang al-Bukhari.
Kondisi Politik
Catatan Akhir
Sumber otoritas Islam terbaik setelah Al-Qur'an adalah kitab Shahih Bukhari. Sebuah mahakarya persembahan anak yatim dan non Arab. Kesungguhan dan keikhlasan telah memecahkan image yang mengatakan, hanya orang Arab yang memimpin ilmuwan Islam. Keabadian nama Imam Bukhari itu tidak bisa dipisahkan dari karya besarnya, terutama Kitab Shahih Bukhari. Jadi, untuk para mahasiswa menulis dan berkarya adalah jalan keabadian nama Anda kelak dan sekaligus sedekah jariah ! kontribusi berkelanjutan) terbaik untuk umat.
Selain itu, ia membuktikan bahwa kesuksesan menjadi peluang bagi setiap orang meskipun anak yatim dan cacat fisik. Pertolongan Allah setiap hamba-Nya.Warisan ilmu dan karya monumental merupakan warisan yang tidak hanya diikat dengan pertalian nasab genetika. Bahkan, menjadi warisan karena pertalian nasab keilmuan baik melalui silsilah nasab keilmuan maupun melalui karyanya. Wallahu a'lam bishsh-shawab.
Salam nalar kritis!

0 Komentar