BILA IZRAIL MEMANGGILMU

SEBUAH PUISI INTROSPEKSI

Langkahku kini lebih pelan, menanggapi senja yang merenggang.

Rambut yang dahulu pekat kini menumpahkan putih, seperti lembar-lembar surat yang ditandatangani waktu.

Di cermin kutemui seorang musafir renta yang sedang menghitung jarak ke kampung abadi.

Dulu aku memburu dunia, bagai anak yang mengejar bayangannya sendiri.

Kupikir bahagia terletak pada harta, nama, dan tepuk tangan manusia.

Tapi satu per satu semua itu runtuh menjadi fatamorgana di telapak tangan.

Tinggallah jejak nama yang perlahan pudar, dan nafasku yang kian menipis.

Baru kini kutahu mengapa Allah masih membangunkanku tiap pagi.

Bukan karena aku layak, bukan karena jasaku masih dipakai.

Melainkan karena Dia memberi sisa waktu untuk kembali.

Kembali mengetuk pintu ampunan-Nya.

Kembali menundukkan hati, menegakkan sujud yang sempat tergesa.

Kembali membersihkan lembar-lembar Amal yang berdebu dalam rak-rak kesibukan.

Sahabat-sahabat seperjalanan telah banyak yang berhenti lebih dulu; nama mereka terukir dingin di tanah.

Sedang aku masih berdiri, memegang pertanyaan yang sama:

“Berapa langkah lagi menuju pintu itu?”

Tiada yang tahu pasti.

Mungkin tahun, mungkin bulan, mungkin hari, mungkin malam ini ketika dunia larut dalam tidur, dan Izrail memanggil namaku.

Kini aku tak lagi diliputi iri akan gemerlap mereka yang kaya.

Tak lagi terpesona oleh kemegahan dunia.

Karena aku menyadari rumah, kendaraan, dan gelar akan tertinggal di belakang.

Yang menemani hanya amal yang ikhlas: shalat yang khusyuk, sedekah yang tak diumbar, air mata tobat di larut malam, dan dzikir yang lirih saat tak ada yang mendengar.

Keriput di wajahku seperti surat dari waktu; uban adalah pesan dari langit; tubuh yang lemah adalah nasihat yang berulang:

“Wahai musafir, persiapan pulangmu mendekati ujung.”

Jika esok masih diberi umur, aku ingin menambah syukur.

Lebih sering memaafkan sesama.

Lebih sering singgah di masjid.

Lebih rajin menggenggam Al-Qur’an.

Lebih banyak berbuat baik tanpa pamrih.

Lebih kerap menyebut nama-Mu daripada membanggakan diriku.

Dan bila perjalanan ini berakhir, jangan biarkan aku kembali tanpa bekal.

Ya Allah, panggillah aku dalam senyum orang yang Engkau cintai, dalam lantunan dzikir yang tak putus, dalam hati yang bersih, dan dalam rindu yang utuh kepada-Mu.

Sekarang kusadari: umur panjang bukan hadiah untuk mencintai dunia lebih lama, melainkan kesempatan terakhir untuk menambah bekal sebelum menapaki kehidupan yang sebenar-benarnya — alam yang kekal

Posting Komentar

0 Komentar