Oleh: Muhammad Yusuf
Albert Einstein berkata: "Kalau ingin hidup bahagia, hubungkan hidupmu pada suatu tujuan, bukan pada orang atau benda." Setiap rencana mesti terhubung dengan tujuan matang dan tegas. Kerap kali seseorang melakukan suatu pekerjaan dengan berorientasi pada tujuan yang semu bahkan nisbi. Akibatnya, jiwa tidak pernah terpuaskan. Bila tujuan semu itu menghilang maka kekecewaan pun menghampiri.
Kita seringkali berpikir bahwa kebahagiaan kita bergantung pada orang lain atau benda-benda di sekitar kita. Kita berpikir bahwa jika kita memiliki pasangan yang sempurna, anak yang baik, atau harta yang banyak, maka kita akan bahagia. Tapi, apa yang terjadi jika orang atau benda itu pergi? Apa yang terjadi jika kita kehilangan mereka?
Kita akan merasa hancur, kita akan merasa tidak bahagia, dan kita akan merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan. Karena kita telah menghubungkan hidup kita pada orang atau benda itu, bukan pada suatu tujuan yang lebih besar.
Tujuan hidup adalah tentang apa yang membuat kita bangun pagi, apa yang membuat kita merasa hidup, dan apa yang membuat kita merasa bahwa hidup ini memiliki makna. Tujuan hidup adalah tentang apa yang kita ingin capai, apa yang kita ingin ciptakan, dan apa yang kita ingin berikan kepada dunia.
Jadi, mari kita hubungkan hidup kita pada suatu tujuan, bukan pada orang atau benda. Mari kita temukan apa yang membuat kita hidup, apa yang membuat kita merasa bahagia, dan apa yang membuat kita merasa bahwa hidup ini memiliki makna.
"Jangan biarkan kebahagiaanmu bergantung pada orang lain, karena kamu adalah satu-satunya yang dapat membuatmu bahagia." Bersandar pada orang atau benda hanya mengakibatkan rasa sakit dan kecewa yang mendalam.
Ayat 200-201 surah al-Baqarah mengajarkan tentang tujua hidup. Ini tergambar pada redaksi dan kandungnya.
فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ...
Terjemahnya: " .... Maka di antara manusia ada orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami (kebaikan) di dunia," dan tidak ada baginya bahagian di akhirat.
Ayat 201: وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Terjemahnya: "Dan di antara mereka ada orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka."
Ayat 200 mengisyaratkan tentang tujuan yang semua di dunia dengan sesuatu atau seseorang. Tujuan pada ayat sebelumnya, yaitu ayat 200 hanya dunia (semu), makanya akhirnya tidak memperoleh apa-apa (semu). Sedangkan ayat 201 menerangkan tentang tujuan yang hakiki yaitu kebahagiaan yang mencakup dunia dan akhirat.
Pernyataan Albert Einstein, "Jika kamu ingin bahagia maka bekerja berdasarkan tujuan, bukan karena seseorang atau benda," selaras dengan maksud ayat ini: kebahagiaan sejati lahir dari orientasi tujuan abadi (akhirat), bukan ketergantungan pada manusia atau materi fana. Doa pada ayat ini mencerminkan kerja bermakna—menggapai hasanah keduanya sambil lindungi dari neraka—sehingga hidup purposeful, mandiri dari ikatan sementara, membawa kepuasan hakiki
0 Komentar