HATI MANUSIA

Penulis: Muhamad Yusuf 

Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar

Samata-Gowa, 08-04-2021

Pendahuluan

Pendidikan itu mencakup jasmani dan rohani. Sebab, manusia- seperti yang Anda ketahui - terdiri atas dimensi jasmani dan rohani, atau dimensi zahir dan batin. Oleh karena itu, ibadah dan kebaikan itu tidak dipisahkan. Semua amalan pada dimensi fisik ditentukan oleh dimensi batin. Bukan sebaliknya. 

Ibadah fisik yang bersifat teknis ini lebih banyak diatur dalam fiqh. Sedangkan ibadah yang mencakup aspek yang hakiki (esensi) itu wilayah kajian tasawuf. Kajian tasawuf inilah yang lebih banyak mengurusi kesehatan batin. 

Dimensi jasmani (raga) dan dimensi rohani (batin) harus diolah untuk menjaga kesehatan dan keselamatannya. Untuk menjaga kesehatan raga maka dilakukan olah raga dan pemenuhan nutrisi yang seimbang. Begitu pula dimensi batin mesti dilakukan olah batin dan asupan nutrisi spritual di yang seimbang dan tepat. Qalbu adalah dimensi yang mesti diolah yang disebut olah qalbu (olah hati).

Makna Qalbu

Pengertian "Qolbu" : Menurut Syekh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali al-Husaini al-Jurjaniy didalam kitabnya "at-Ta'rifat" : Qolbu adalah sifat lembutnya Ketuhanan yang terdapat dalam jiwa manusia.

Dalam hadis Rasulullah Saw: Dari Nu'man bin Basyir berkata: saya mendengar Rasulullah Saw. Bersabda:

ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب

" Ketahuilah,sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah "Qolbu" yaitu hati ". (H.R. Bukhari).

Qolbu, ruh, nafsu dan akal adalah istilah yang serupa tapi tidak sama. Tidak jarang orang memberi makna yang salah terhadap qolbu, ruh, nafsu maupun akal. Imam al-Ghazali telah memberikan definisi arti qolbu, ruh, nafsu dan akal.

Qolbu disebut juga hati. Hati sesungguhnya memiliki dua pengertian, yakni fisik dan spiritual. Secara fisik hati merupakan daging yakni organ tubuh manusia yang tersimpan dan terlindungi oleh tulang belulang. Hati terletak di dada sebelah kiri. Bentuk hati seperti buah shanaubar sehingga sering dikatakan hati sanubari.Pada daging hati terdapat lubang dan jaringan yang halus. Di dalam lubang atau rongga terdapat darah hitam yang menjadi sumber ruh.

Hati secara spiritual merupakan sesuatu yang halus, rabbaniyah (ketuhanan), ruhaniah (kerohanian) dan mempunyai keterkaitan dengan hati yang jasmaniah. 

Qolbu Menurut Al-Qur'an

Hati diterangkan oleh Al-Qur'an dengan berbagai istilah. Setiap istilah menunjuk makna-makna yang berbeda dari hati itu. Demikian uniknya hati manusia, sehingga term yang digunakan juga bervariasi. Hati mengandung makna materiil dan immateriil. 

Hati dalam bahasa Arab disebut dengan “qalb”. Sedangkan makna dari “Qalb” itu sendiri adalah membalikan. Namun ada pula yang menyebutnya dengan “al-kabad”. Pemaknaan lughawy ini hanya sebagai dasar bahwa hati adalah bagian terpenting dalam tubuh dan pola pikir manusia.

Dalam masalah peranan hati terhadap perbuatan manusia, Islam menyikapinya dengan bijak, khusus kepada umat Muhammad Saw. bahwa siapa pun yang ingin melakukan kebaikan. Cukup bermodalkan niat yang terbersit dalam hati, maka Allah telah memberikan balasan niat baiknya itu walaupun ia tidak mengerjakannya sebab lupa dan lain sebagainya. Sebaliknya, dalam masalah perbuatan buruk, siapa pun tidak akan di kenakan dosa oleh Nya selama hanya terbersit dalam hati.

Kondisi Hati

Ada hati yang sehat dan fungsional (qalbun salim), ada hati yang mati atau mengalami disfungsi atau mati (Qalbun mayyit). Ada pula hati yang sedang sakit (qalbun maridh). 

Kalbu bisa dikatakan sebagai hati/perasaan. Di dalam kalbu terdapat sebuah pembangkit yang bisa menggerakkan setiap tindakan kita. Ketakwaan seseorang berada di dalam kalbunya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw.

“Ketakwaan itu di sini! Ketakwaan itu di sini!” (Seraya menunjukkan ke arah dada beliau) (HR Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah r.a.)

Kalbu merupakan bagian dari diri yang mudah sekali mengalami perubahan karena sifatnya lemah dan mudah terwarnai oleh berbagai hal. Oleh karenanya harus dijaga dengan berbagai amalan dan ibadah kepada Allah.

Terdapat tiga kondisi kalbu yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Kondisi yang digambarkan Al-Qur'an menggunakan kata sifat yang mewadahi makna-makna yang terkait dengan kondisi hati manusia.

Pertama, qalbun salim. Qalbun salim merupakan kalbu yang selamat atau bersih. 

وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَيَ. وْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونيإِ. لَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Pada hari yang harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan kalbu yang bersih.” (QS Asy-Syu’ara: 88-89)

Kalbu ini merupakan kalbu milik orang yang senantiasa menjaga keimanannya kepada Allah Swt. Orang yang memiliki kalbu ini juga harus menjaga kesucian dan keselamatan.

Kedua, qalbun maridh. Qalbun maridh adalah kondisi hari yang sakit atau memang berpenyakit. Banyak sekali perihal yang menyebabkan hati seseorang hingga menjadi sakit.

Kondisi hati seperti ini disebutkan Allah Swt ketika menyebutkan sifat orang munafik.

“Dalam hati mereka ada penyakit. Lalu Allah tambahkan penyakitnya. Dan bagi mereka azab yang pedih karena mereka berdusta.” (QS Al-Baqarah: 10)

Penyakit hati yang menyebabkan qalbun maridh ini ada dua, yakni penyakit syubhat dan syahwat. Penyakit syubhat dapat membuat seseorang tidak bisa membedakan yang benar dan batil, sehingga terkadang kesesatan atau bid’ah dianggap baik. Sedangkan penyakit syahwat yang membuat seseorang dengan senang hati melakukan hal yang haram dan masuk ke jurang maksiat.

Ketiga, qalbun mayyit. Qalbun mayyit adalah kalbu yang mati. Kondisi kalbu yang mati ini tidak dapat melihat kebenaran, meski matanya secara fisik melihat.

“Sebenarnya bukan mata yang buta, melainkan yang buta adalah kalbu-kalbu yang di dalam dada.” (QS Al-Hajj: 46).

Mata hati mereka yang buta, karena tidak adanya cahaya iman di dalamnya. Hati mereka gelap.

Bagaimana Hati yang Selamat?

Dalam salah satu doanya, Nabi Ibrahim AS memohon kepada Allah SWT agar tidak dihinakan pada hari kiamat. Seperti teks ayat di atas di sini saya tidak mencantumkan ulang. Saya menampilkan ulang terjemah dan nama surah serta nomor ayat. "Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (QS al-Syu'ara [26]: 87-89).

Melalui ayat tersebut, paling tidak, ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam doa Nabi Ibrahim ini. 

Pertama, kekhawatiran tentang azab akhirat. Sebagai Nabi, bahkan bapak nabi-nabi, dan bergelar "Khalil Allah" (kekasih Allah), Nabi Ibrahim masih khawatir kalau-kalau dihinakan oleh Allah pada hari Kiamat. Kekhawatiran semacam ini patut dicontoh.

Kedua, devaluasi nilai harta (kekayaan) dan keturunan (pengikut). Untuk ukuran duniawi, harta dan anak-anak, termasuk pengikut, merupakan variabel utama yang menentukan status dan strata sosial manusia. Di akhirat, keduanya menjadi tidak penting karena para malaikat sebagai "aparat Tuhan" tak mungkin "disuap" apalagi diteror.

Ketiga, kebersihan hati sebagai pangkal keselamatan di akhirat. Jaminan keselamatan hanya diberikan kepada orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih atau sehat (qalbun salim). 

Banyak pendapat dari para pakar, khususnya dari kalangan ahli tafsir, yang pada pokoknya berkisar pada tiga makna. 

Pertama, seperti dikemukakan Ibnu Katsir, juga al-Alusi, qalbun salim bermakna salamat al-qalb 'an al-syirk aw al-aqa'id al-fasidah (selamatnya hati dari syirik atau kepercayaan-kepercayaan yang sesat). Hati yang sehat berarti memiliki akidah yang benar, lurus, serta bebas dari segala bentuk kemusyrikan.

Kedua, qalbun salim berarti bersih dari penyakit-penyakit hati (salim min amradh al-qulub). Dalam permulaan surah al-Baqarah, dikemukakan tiga golongan manusia, yaitu orang-orang takwa (al-muttaqun), orang-orang kafir (al-kafirun), dan orang-orang munafik (al-munafiqun). Golongan yang disebut terakhir ini adalah orang-orang yang hatinya berpenyakit. "Dalam hati mereka ada penyakit lalu ditambah Allah penyakitnya." (QS al-Baqarah [2]: 10).

Ketiga, seperti badan yang sehat, hati yang sehat juga memiliki kesempurnaan dan kekuatan melakukan apa yang menjadi tugas dan fungsinya sesuai maksud penciptaan. Fungsi hati yang utama adalah mengenal Allah, yaitu iman dan takwa. "At-taqwa ha-huna" (takwa itu di sini), dan beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. (HR Baihaqi dari Abu Hurairah).

Tidak bisa disangkal, hati yang sehat menjadi pangkal kebaikan dan pendorong amal saleh (ba'its li shalih al-a'mal). Di sini, hanya hati yang disebut sebagai pangkal keselamatan di akhirat, bukan anggota badan yang lain. Hal ini, menurut imam al-Razi, karena kalau hati sehat, seluruh anggota badan yang lain ikut sehat. Sebaliknya, kalau lidah (kata-kata) dan anggota badan lain (perbuatan) tak sehat, sudah bisa dipastikan hati tak sehat (berpenyakit).

Perawatan hati, seperti diajarkan para sufi, menjadi penting. Perawatan hati, seperti halnya perawatan fisik, memerlukan dokter spesial yang tidak lain adalah para ulama. Dokter yang satu ini, menurut Imam Ghazali, selain makin lama makin langka, sebagian dari mereka juga 'berpenyakit'

Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya mendidik dan mengembangkan kecerdasan otak tapi juga mengolah kecerdasan kalbu. Dimensi fisik dan psikis mesti terkelola secara simultan dan seimbang.

Pendidikan moderen saat ini banyak yang berhasil mencerdaskan secara intelektual dan skill, namun gagal mengasah moral spritual. Otak penuh dengan teori-teori moderen dan mekanik, namun kering dari nilai-nilai moral spritual. Akibatnya, berbagai krisis yang ditimbulkan oleh perilaku para sarjana.

Berdasarkan data, pelaku korupsi di Indonesia, berdasarkan urutannya dilakukan oleh Sarjana S2, S1, S3. Materialisme telah menggerogoti nalar dan nafsu mereka. Epistemologi, aksiologi, dan antologi ilmu harus ditata ulang untuk menghasilkan kaum terpelajar yang seimbang secara intelektual, emosional, dan spritual.

Kini, tampak dominasi intelektual yang dipaket dengan materialisme yang menuntun manusia moderen memasuki sebuah kesenjangan yang makin menganga lebar. Persaingan yang kejam, nilai-nilai kemanusiaan diabaikan demi melayani nafsu materialistik yang akut. Itulah penyakit hati manusia moderen.

Penutup

Untuk mengaktifkan hati dan nurani yang sehat maka ilmu-ilmu yang mendukungnya harus ditata dan diterapkan sebelum bersarang penyakit hati dan menjadikan hati sakit (qalbun maridh). Atau bahkan sebelum hati mati tak berdaya dan mengalami disfungsi (qalbun mayyit).

Wallahu A'lam


Posting Komentar

0 Komentar